Sabtu, 09 Juni 2012

Everythings look so' cryptic

Siapa yang bilang bahwa hidup itu hukumnya pasti? Siapa yang bilang masa depan itu terlihat dari sini. Tertangkap oleh kamera mata kita. Cenayang mana yang berhasil melihat masa depan seseorang secara jelas. Tak ada yang sepintar Tuhan melihat bagaimana hidup kita di masa depan.
Hari ini, saya mendapat satu hal kecil yang bisa saya tangkap. Saat beberapa orang teman menyebutkan nominal gaji di perusahaan tempat ia bekerja. Kebanyakan teman-teman kampus saya berlomba untuk mendapatkan peringkat, kedudukan, dan gaji besar. Sampai mereka berjuang penuh untuk mendapatkan itu. Sampai akhirnya, saya sadar. Saya yang tadinya seperti ikut berkompetisi dengan mereka melihat sesuatu yang lain. Pernah saya baca kalimat dari seseorang bahwa pekerjaan yang kita inginkan sebenarnya tergantung passion kita. Bukan tergantung pada peringkat, kedudukan, dan gaji besar tadi.
Saya berfikir *saat saya sadar* ternyata dari awal saya kuliah saya berbeda dengan mereka. Berbeda dalam arti, kenapa cita-cita saya tidak setinggi mereka. Dan bahkan saya hanya ingin jadi penulis tetap, a full Mom, sesederhana itu. Saya tidak pernah melihat bahwa menjadi penulis uang yang saya dapat tidak besar. Saya tidak melihat bahwa menjadi penulis saya tidak akan punya kantor megah yang bisa dicapture dan dipajang di DP BBM. Atau bahkan menjadi bahan perbincangan UTAMA saat reuni sekolah, atau ditengah perkumpulan keluarga besar. Saya tidak menginginkan itu. Saya hanya ingin menulis, dan bagaimanapun keadaannya nanti itu akan jadi profesi tetap saya.

Dari situ saya sadar saya berbeda dengan teman-teman saya yang bekerja mati-matian demi mendapatkan masa depan yang sesuai aturannya sudah dibayangkan di otak mereka saat mereka masih kuliah dulu. Sedangkan saya menolak mendapatkan yang lebih tinggi dari sekedar menjadi penulis. Karena saya akhirnya tahu passion saya hanya ada di menulis. Saya *dengan serentetan histori penolakan dari penerbit* memang tidak pernah berfikir apakah suatu hari nanti buku saya akan terbit dan meledak jadi best seller. Lalu akan kenal dan bertemu dengan penulis-penulis terkenal yang biasanya hanya bisa saya lihat lewat timeline mereka di twitter. Tapi sering saya berkhayal suatu saat nanti entah di tahun berapa, saya akan masuk di acara Kick Andy karna buku yang saya keluarkan menjadi inspirasi bagi para pembaca. See? Buat saya masa depan juga bisa terjadi lewat khayalan odong-odong atau istilahnya khayalan yang tidak resmi. Masa depan tidak harus tercipta dari aturan baku dengan belajar rajin saat sekolah hingga mendapat pekerjaan yang sesuai dengan prestise di kemudian hari. Saya rasa, sukses atau tidaknya seseorang itu tidak tergantung dari hal apapun. Saya yang menulis dengan begoknya saja suatu hari nanti bisa menjadi penulis inspirator. Di mana saat itu saya sudah mencintai pekerjaan tetap saya.

Bukannya saya tidak mau bekerja selayaknya orang biasa. Saya juga manusia biasa yang cari duit buat makan sehari-hari. Tapi walaupun tidak setiap orang bisa menerima, buat saya menjadi penulis juga merupakan prestasi yang tidak kalah berharganya dengan menjadi karyawan di perusahaan gedongan. Walaupun mungkin saya tidak punya kedudukan atau gaji sebesar mereka. I really don't care selama saya juga bisa berkreasi. Toh, hidup itu bukan hanya sekedar makan, minum, cari duit dan bercinta. Tapi saya yakin maknanya lebih dari itu ...

Minggu, 01 April 2012

Sayap-sayap patah

Tolong jangan negativ thinking dulu waktu saya bikin judul yang udah jelas nyopas dari salah satu judul puisi Kahlil Gibran. Bukan mau niru-niru isi dari puisi tersebut. Sumpah gak ada hubungannya sama puisi atau apapun itu namanya. Judul itu tetiba muncul numpang lewat di otak saya waktu lagi di kamar mandi tadi. Jelas lah saya juga nggak perlu kasih tahu apa yang saya lakukan di kamar mandi.

Gimana kalo kita langsung ke topic yang mau saya bahas? Oke. Let's start!
Jadi, waktu ngebayangin kata-kata tersebut, apa yang saya bayangin adalah perempuan. Perempuan yang sering disimbolkan sama kata 'lemah' dan nggak jauh dari tangis dan air mata. Entah kenapa definisi yang otak saya kasih dari sayap-sayap patah adalah pecahan-pecahan hati yang nggak ada tambalannya.
Hey! Tulisan saya ini jadi lebih menyerupai tulisan tentang perempuan rapuh yang nggak bisa apa-apa. Entah kenapa saya jadi nyambung-nyambungin judul itu sama perasaan. Ya gimana ya saya juga perempuan biasa yang memang sometime, feel so' weak. Wajar aja kali ya kalo saya jadi menghubung-hubungkan si sayap sebagai hati.

Tapi whatever it is, emang nggak terlalu penting juga sebenernya karna saya nggak lagi pengen membahas tentang sayap ayam atau burung atau bahkan sayap pembalut (option terakhir abaikan). Saya juga nggak lagi ngebahas tentang apa aja benda yang bisa patah di dunia ini selain hati? Ealaaah, kok jadi balik lagi ke urusan hati :D

Baiklah, lupakan tentang sayap-sayap patah tadi. Yang pasti, definisi tentang perempuan lemah itu sebenernya beragam dan sometime nggak bisa kita prediksi secara pasti. Karna banyak banget type perempuan lemah yang ternyata sebenernya punya perangai kuat tapi hanya lemah di dalam (Saya juga nggak gitu ngerti sebenernya dengan apa yang saya tulis ini) Tapi apapun itu, yang pasti sayap-sayap patah masih jadi judul puisi milik Om Kahlil Gibran dan saya nggak ada niatan sedikit pun untuk ngaku-ngaku itu ide saya atau apalah. Hari sudah semakin malam, waktu juga maju terus jadi baiklah kita akhiri saja percakapan ini, and good night, LOVE :)

Sabtu, 10 Maret 2012

Ladang Sedekah

Mumpung malem-malem bisa online akhirnya saya putuskan untuk kembali menulis. Buka blog yang dibukanya kalo ada komentar doank (saya janji untuk lebih sering nulis bukan cuma ngecek komentar, saya harapa saya bukan termasuk golongan wanita pencitraan) :D

Sambil nunggu upload foto dari blog yang satunya lagi (oke, koneksi malem ini nggak terlalu bagus berhubung malem minggu). *gak ngaruh juga kali*

Saya tahu kadang apa yang saya tulis nggak gitu heboh, spekta atau bahkan sampai mengundang media cetak untuk menerbitkannya. Tapi boleh dong ya kalo saya sedikit share di sini tentang keseharian saya atau tentang apa aja yang saya alami dan pelajari.
Hari ini saya belanja naik angkot. Mungkin itu juga bukan hal yang menakjubkan atau mengguncang dunia tapi setelah sekian lama jarang naik angkot, akhirnya saya naik angkot juga sendiri. Sedikit teringat tentang masa lalu saya yang PUALING SENENG kalo dikasih kesempatan sama Tuhan untuk ngelamun di angkot smabil dengerin lagu. Hey! saya rasa itu asal muasalnya tercipta tema 'galau' di internet. Wanita-wanita kayak saya itu yang paling demen ngulang-ngulang yang udah-udah.

Sebelum saya ngelantur lebih jauh ke masa lalu saya dan coba-coba make mesin waktu untuk sampai ke sana, mending saya langsung cerita aja. Setelah masa-masa galau berakhir, naik angkot jadi lebih ke merupakan memperhatikan orang-orang sekitar kita. Memperhatikan hal-hal kecil yang kadang nggak kita tangkep secara sadar. Tapi tadi, saya banyak memperhatikan orang-orang kecil yang hidupnya di jalanan. Yang mencari uang 'ala kadarnya' di lapangan.
Pertama saya sempet ketiban sial naik angkot yang angkotnya entah kenapa mogok dan keluar asep dari mesinnya. Panggil saya bodoh karna saya nggak akan bisa ngejelasin sebab musababnya kenapa mesin angkot tersebut sampe ngeluarin asep. Saya dan segenap penumpang di sana sempet turun dan lari ketakutan. Sampe imajinasi saya bergerak lebay ngebayangin mobil bakal meledak dan kami orang-orang yang di sana kena ledakannya (walopun itu memang mungkin terjadi, tapi au'dzubillah himindalik lah) dan alhamdulilah memang semua orang selamat dan gak ada ledakan apapun. Tapi entah kenapa, saya sempet ngerasa kasian sama si supir angkotnya. Dia sempet diklaksonin berulang-ulang sama Ibu-ibu cina yang mengendarai mobil mewah. Waktu semua penumpang turun pun nggak ada yang bayar sama supir angkotnya. Entah lupa entah panik atau bisa juga pura-pura lupa. Bahkan saya sempet sok-sok malaikat mau bantuin itu supir angkot yang-saya-pun-nggak-tahu-bantuin-dengan-cara-apa.

And then, di perempatan saya ngeliat sebuah gedung yang lagi dibangun. Nggak sengaja mata saya nangkep seorang tukang yang lagi makan permen dipojokan. Bukan pengen tahu urusan orang ya, tapi kadang saya pengen tahu apa dia udah makan atau belum. Dan bukan juga saya mau sok perhatian ya. Tapi yang saya perkirakan, mereka dikasih jatah makan sekali (ini masih kemungkinan ya) dengan porsi yang luar biasa sedang alias sedang lapar-laparnya. We know that so' well kalo namanya tukang kan tenaganya banyak dikuras seharian. So' dia nggak ada waktu untuk mikirin, sore-sore lapar lagi pengen deh makan bakso. Apa ada tukang bakso tahu yang lewat? Kayaknya makan kebab enak nih. Kayaknya indomie rebus cucok nih dimakan di cuaca dingin begini (oke saya akan ngaku kalo yang baru saya sebutkan adalah imajinasi saya dikala lapar) *abaikan*
Means, menurut saya mereka cuma bekerja memecut tenaga mereka tanpa harus repot mikirin cemilan apa yang akan mereka makan setelah bosnya ngasih dia jatah makan. Malah mungkin yang dia pikirin adalah, makanan apa yang kira-kira bikin anak istrinya kenyang nanti malam. Ini memang masih asas praduga saya aja. Tapi saya ngambil kesimpulan kalo saya yang tiap hari masih bisa makan apapun yang saya mau harusnya sih lebih bersyukur dari mereka. Apalagi ditambah bonus tidak mengeluarkan tenaga secapek mereka. 

Sebenernya masih banyak potret-potret kehidupan di jalan raya tentang mereka yang let say kita anggap sebagai ladang sedekah kita. Mereka yang sampai malam pun masih harus cari duit bukan makan. Tapi tentunya kalo diterangin di sini bisa jadi cerbung lama-lama :D
Jadi saya bahas intinya aja. Intinya, saya selalu berusaha untuk peduli pada mereka. Walaupun saya nggak dermawan-dermawan banget tapi minimal saya juga peduli sama mereka. Setiap saya punya rezeki yang berlebih dari Allah SWT, saya selalu berfikir bahwa ada hak mereka di sana. Rasanya gimana gitu kalo rezeki itu saya makan sendiri. Kok rasanya nggak adil banget. Mereka bisa kerja 24 jam untuk cari duit. Lah saya tinggal nikmatin doank.

So' mereka, orang-orang di sekitar kita itu adalah ladang sedekah kita. Mereka yang doanya katanya langsung didenger sama Tuhan. Pernah ada orang yang bilang bahwa saat kita sedang tertimpa banyak masalah, sedekah akan mempermudah masalah-masalah kita. So' jangan malas untuk memperhatikan mereka, ladang sedekah kita :)

Minggu, 04 Maret 2012

Office in crime

Mumpung ada waktu luang buat nulis blog *celingak celinguk, sadar kalo ini masih di kantor* OK. Back to topic.

Saya ingin cerita sedikit tentang apa-apa aja yang saya alami belakangan ini di kantor saya yang ajaibnya lebih super dari nasihat-nasihatnya Om Mario Teguh. Saya pernah cerita keadaan yang bikin saya nggak betah di sini kan? Saya juga udah pernah ngegambarin gimana chaosnya keadaan kantor saya kan (terdengar seperti lagi baca tulisan tentang negara nggak sih denger kata chaos :D). 
Jadi ceritanya orang yang selama ini nggak bisa saya anggap pemimpin karna dilihat dari caranya memimpin anak buah, caranya berbuat curang, caranya nge-judge karyawan, dan sebagainya dan sebagainya itu pada akhirnya terbuka satu per satu kasusnya di kantor ini. Saya salah satu orang yang bisa dibilang lega. Bukan karna kecurangan dia kebongkar (itu bukan urusan saya) tapi keyakinan yang selama ini saya pendem. Entah kenapa dari dulu saya percaya Tuhan memang selalu lembur 24 jam untuk mengawasi keadaan di dunia. Dia nggak akan membiarkan gitu aja orang yang memang melakukan kesalahan. Bukan saya sok tahu atau apa, tapi saya cuma merasa selama kepemimpinan dia saya sering sakit hati.

Dan kemarin, masalah-masalah di kantor saya adalah bukti bahwa Tuhan memang benar-benar ada. Bahwa Tuhan memang selalu menyuarakan keadilannya pada manusia. Kalimat kita nggak pernah tahu apa rencana Tuhan itu memang benar adanya. Karna banyak hal-hal yang nggak saya suka dalam hidup saya dan yang Tuhan kasih ke saya secara cuma-cuma yang selalu saya keluhkan itu ternyata diledakkan di waktu yang tepat. Kita hanya nggak pernah tahu kapan waktu yang tepat itu. Dan sebenarnya itu bukan urusan kita juga. Biar Tuhan yang menyelesaikan semuanya.

Kadang saya marah, sedih, dan sakit hati menghadapi banyak kecurangan dan ketidakjelasan di kantor saya sekarang ini. Kadang saya merasa kenapa Tuhan belum juga muncul sebagai pahlawan saya. Tapi ternyata semuanya memang sudah diatur sebaik mungkin. Semuanya sudah dipersiapkan oleh-Nya dengan sebaik-baiknya. Saya nggak pernah mengharapkan satu per satu orang-orang nyebelin di kantor saya diberhentikan, sekali lagi saya bilang itu bukan urusan saya. Saya cuma minta sama Tuhan, biar ada penyelesaian yang bijak. Yang saya rasa bisa membuat orang itu belajar. Saya nggak munafik bahwa saya juga masih ada sisi nyebelinya, tapi saya berharap Tuhan juga selalu membuat saya belajar.

Saya dengan segenap kekuatan bulan *eh, terlihat sailormoon palsu nih* :D, sangat bersyukur dengan sedikit demi sedikitnya masalah-masalah di hidup saya terselesaikan. Mungkin namanya bukan selesai ya, tapi ada sedikit titik terang. Walaupun yang namanya masalah ya selalu ada di mana pun. Tapi minimal kegalauan kegalauan saya tentang pekerjaan saya sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Nggak lupa saya ngucapin sejuta kata terima kasih sama sang Maha Pencipta, sama Yang Punya Kehidupan. Dialah yang paling andil memberikan banyak berkah dan kenikmatan di hidup saya :)

Belajar tentang keyakinan, Saya selalu yakin dan percaya bahwa dalam hidup saya ada suatu masa di mana saya nggak males lagi nyelesein tulisan. Saya juga bisa menjadi penulis sesuai dengan yang selalu saya imajinasikan. Entah kapan itu, tapi saya yakin Tuhan sudah mempersiapkan waktunya sematang mungkin. Someday, di waktu yang tepat Dia akan memperlihatkan jalannya kepada saya. Amin Ya Rabb :)

Selasa, 21 Februari 2012

Sedikit ingin menulis sesuatu di sini, di tengah ketiduran saya di kantor dan kantor lagi sepi
Pintu hati saya terketuk untuk menulis blog yang udah lama banget nggak disinggahi kayak rumah kosong yang ada PLANG tulisan "DIKONTRAKAN". Oke, back to topic.

Topicnya jelas bukan tentang kenapa saya sendirian di kantor, tapi tentang pikiran selewat yang mampir ke bagian otak saya secara kebetulan. Kalo dibilang peneliti (yang sifatnya nggak resmi) mungkin iya itu cerminan diri saya. Karna saya udah kayak detektif boongan yang diutus untuk memperhatikan apa saja yang terjadi di sekitar saya. 

Saya cuma bosan sama orang2 di muka bumi yang sibuk banget ngurusin titel, jabatan, kekuasaan, kedudukan dan juga 'penyimpanan uang'. Saya nggak ngerti apakah nggak ada hal penting lain yang bisa kita pikirin selama kita hidup di dunia selain itu-itu yang tadi saya sebutkan. Saya juga capek menghadapi orang2 yang katanya sekolah sampe perguruan tinggi selesai tapi otaknya lebih dong dong dari bolot. Bukannya saya meremehkan pendidikan di Indonesia, tapi ya mbok dilihat dulu lah setinggi apa cara berfikir kamu sebelum kamu berbicara. Bangga dengan status dan kedudukan mungkin sah2 aja kalo memang apa yang kita perjuangkan selama kita mengkonsumsi pendidikan sekolah itu emang ada hasilnya (walopun saya tahu kalo SDM-nya bagus gak akan ada acara bangga2in jabatan atau pendidikan). Tapi minimal, sombong juga ada hasilnya.

Mereka kayak nggak punya mata, ada yang lebih penting dari itu semua dibanding apapun. Ada yang lebih berharga dari hanya sekedar uang dan uang. Kayak lagunya Jessie J, MONEY CAN'T BUY A HAPPYNESS ... 

Senin, 30 Januari 2012

Kaleidoskop hidup

Pertama tahu arti kaleidoskop itu waktu kelas 3 SMP. Salah satu sobat waktu SMP ngajak bikin kaleidoskop tentang perjalanan persahabatan kita. Apalagi waktu itu ceritanya kita akan memasuki masa SMA. Oke. Cerita saya kali ini sama sekali nggak ada kaitannya dengan kaleidoskop segala. Jauh dari tema utama yang pengen saya bahas.

First, saya cuma pengen ngelongok lagi ke belakang. Ngintip sebentar ke kaleidoskop hidup saya. Apa ada yang salah? Saya pernah bilang sama diri sendiri, kalo saya lagi merasa ada yang salah sama jalan hidup saya, mungkin bukan keadaan yang salah tapi mindset atau cara berfikir. Entahlah, apakah cara berfikir saya sekarang memang ada yang miring dikit sampe saya agak sulit menerima keadaan di hidup saya.

Bukan bukan, ini bukan tentang cinta atau perjalanan cinta yang saya rasa sudah cukup saya rasakan bumbu-bumbunya. Tapi ini tentang, situasi yang sedang saya hadapi. Sekarang ini saya bekerja di salah satu perusahaan swasta yang dibilang kecil nggak dibilang gede ya nggak juga. Tapi alhamdulilah gaji saya cukup untuk menopang dan membiayai hidup saya sehari-hari. Beruntungnya adalah saya bukan type cewek yang ngejar gaya hidup. Saya suka gaya tapi nggak harus jadi patokan utama untuk gaya dalam hidup (Catet! Itu mah zaman saya masih abegeh, yang dikit2 harus ngikut tren).

Bukannya saya nggak bersyukur sama pekerjaan saya, tapi kalo untuk mencintai jujur saya memang belum bisa. Saya suka cara kerjanya, saya suka temen2nya, saya suka juga uangnya :D, tapi nggak untuk sistem dan manajemennya di sini. Saya dihadapkan pada aturan2 yang kadang diluar konsep dan logika (bukannya sok pinter tapi kalo memang berpendidikan saya yakin konsep kerjanya juga pasti jelas). Saya juga harus berhadapan dengan atasan2 yang *dengan desas desus yang ada, cuma ngambil keuntungan dari duit perusahaan*. Okelah kita nggak usah sebut itu koruptor, apapun namanya tetep aja itu salah. Kami para karyawan yang secara tidak langsung sering ditegaskan 'diem aja deh lo, lo cuma karyawan dengan gaji pas2an' cuma bisa diem setiap melihat banyak ketidakadilan atau kecurangan. And sometime kami merasa tidak ada kesejahteraan karyawan yang bisa kami nikmati.
Belum lagi itu masalah uang, di tambah perselingkuhan. Antara atasan dan bawahan. Kongkalikong antara atasan dan bawahan yang bisa ditampar pake duit yang *catet* cuma beberapa juta (I means, tanggung ctjin kalo mau korup mending gede sekalian). Maaf seribu maaf saya juga merasa bahwa cara berfikir mereka yang ada di atas itu ... cuma sebatas 'Oh my God calling me stupid'. Saya nggak bilang mereka bodoh karna saya mengakui mereka juga punya peran dalam memajukan perusahaan. Tapi buat saya mereka tetep NOL. Gak ada cerdas2nya. Karna orang2 di atas itu punya kepentingan sendiri yang seolah nggak bisa diganggu. Mereka kayak lupa kalo roda hidup itu berputar dan nggak ada yang tahu kapan mereka akan tersungkur ke bawah.

Selingkuh emang bukan hal yang aneh lagi. Sorry bukannya saya sok suci. Tapi orang2 ini nggak pernah mau tahu apakah selingkuh itu salah atau nggak. Mereka cuma pura2 lupa. Mereka membutakan mata dan hati mereka sendiri. Saya juga tahu banget kalo di negara kita hal2 kayak gitu nggak aneh juga. Tapi saya cuma miris aja, makin sini mereka semakin belagu dengan kekuasaan dan materi yang berlimpah.
Belum lagi di kalangan atas, di kalangan karyawan kayak saya juga perselingkuhan udah nggak aneh lagi. Saya tahu itu bukan urusan saya, tapi bekerja dengan orang2 yang kayak gitu malah bikin saya sering mengucap do'a. Minta sama Tuhan semoga Tuhan selalu menjauhkan saya dan pasangan saya dari hal2 seperti itu. I means, godaan ada di mana2 kita tahu itu tapi saya juga selalu minta Tuhan selalu memberikan saya dan pasangan saya sebuah ketetapan hati. Saya ingin kayak Mama, sampe setua sekarang masih jadi wanita yang setia buat papa :')

Jadi intinya, dari mulai bawahan sama atasan di kantor saya ini, SDMnya yang nggak jelas. SDMnya yang nggak bisa dijadikan contoh. Yang nggak berkualitas. Dan nggak ada isinya. Sekali lagi bukannya saya sok pinter dan merasa lebih baik tapi saya yakin masih banyak orang yang bisa menjadi karyawan berkualitas. Atau oke deh, kita nggak ngomongin kualitas kinerja kerja dulu. Minimal pribadinya aja. Dan menurut saya, 70%nya NOL semua. Sorry to say ...

Tapi mudah2an Tuhan cuma mau saya belajar. Belajar menghadapi orang2 yang nggak jujur, orang2 yang 'seperti mereka'. Saya ngomong gini bukan berarti saya udah sempurna, tapi yang saya mau sih keadaan dan situasinya nggak kayak gini. Tapi hidup itu kan mau nggak mau suka nggak suka ya harus dijalanin kan ya. Tugas saya hanya bersyukur, bukan menghujat. Cuma, I'am curious that kenapa saya dihadapkan sama situasi yang seperti ini. Makanya saya pengen lihat kaleidoskop hidup saya. Di mana letak kesalahannya? Tapi segala sesuatu harus dijadikan pelajaran sih. Saya juga bukan karyawan yang baik2 banget, tapi minimal saya nggak menggunakan kecurangan untuk kepentingan pribadi.

Kita bekerja untuk cari uang apa cari muka sih???

Rabu, 11 Januari 2012

Menghargai dan menikmati

Lagi-lagi saya belajar dari sebuah blog yang saya ikuti. Terlepas dari siapapun yang menulisnya, saya sangat berterima kasih karna bisa belajar dari sana
Saya belajar tentang menghargai sesuatu, means orang-orang yang saya sayang dan yang menyayangi saya semasa hidup
Saya sadar, *agak buka aib nih* :D kalo saya pemarah dan sometimes egois
Saya suka nggak sadar marah sama orang-orang di sekitar saya termasuk pasangan saya dan orang tua saya
Padahal kalo suatu saat mereka pergi, atau saya yang pergi saya yakin nyeselnya bisa berkali2 lipat
Tapi saya belajar untuk menikmati waktu demi waktu yang sudah saya habiskan dengan mereka
Saya belajar untuk menghargai kebersamaan yang kami buat yang kata lainnya adalah kenangan
Saya juga belajar menyadari bahwa orang-orang yang sedang menjalani hidup bersama saya sekarang adalah titipan Tuhan, itu karna saya sangat sadar bahwa saya takut akan perpisahan
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti Tuhan mengambil salah satu di antara kami

Saya tidak tahu rasanya, tapi dengan membayangkannya saja sudah sangat membuat saya sedih
So' saya mati-matian belajar mendoktrin diri saya sendiri bahwa kita hidup sementara, mereka hanya titipan Tuhan (begitupun dengan diri kita), dan intinya adalah menikmati kebersamaan saat Tuhan masih memberi kami semua waktu untuk bersama
Setiap hari saya selalu mencoba untuk kuat, kuat dalam arti jika suatu hari nanti saya kehilangan mereka saya akan mencoba menjadi saya yang berani menghadapi kenyataan hidup
Walaupun dalam kenyataanya saya tahu itu tidak semudah yang saya bayangkan
Tapi saya selalu berusaha ikhlas akan keputusan Tuhan

Saya memang tidak pernah tahu kapan waktunya
Saya juga tidak boleh atau tidak perlu mengira-ngira kapan waktu yang Tuhan tentukan, tapi minimal saya belajar untuk ikhlas dan pasrah atas apa yang Tuhan kehendaki untuk hidup saya
Karna suatu hari nanti akan ada air mata di wajah saya, akan ada waktu di mana saya terbuai dengan kenangan, tapi yang selalu saya minta pada Tuhan adalah apapun kesulitannya seberat apapun itu saya akan selalu diberi kekuatan ...