Selasa, 19 Maret 2013

Apakah nanti surga itu akan seperti ini?



Setelah lepas dari yang namanya kemoterapi? Tuhaaaannnn ... Rasanyaaaa. Kayak jalan di awan dengan kecepatan seimbang. Bisa lihat semua yang indah-indah diliat dari perspektif atas. Lalu merasakan angin yang sejuk. Dan kalau saya berada di awan kesannya gak seberapa jauh dari rumah Tuhan :)

Duoh. Filosofinya terlalu membahana begini yak :')

Tapi selebay-lebaynya perumpamaan tadi, buat saya itu nyata sekali. Saya seperti jadi bagian dari tetek bengek surga. Saking indahnya hidup tanpa kemoterapi. Sorry for the lebay think I have. Padahal kemoterapi itulah yang menyembuhkan saya dari penyakit yang bisa dibilang ringan tapi juga bisa dibilang berat. Tapi memang efeknya itu bikin saya gak yakin apa saya masih bisa menjalani hidup. Apa saya masih bisa kembali normal ke sebelum saya kemoterapi. Dan apa saya masih bisa menikmati hidup kayak dulu? Tapi ternyata, TUHAN! Saya gak percaya kalo saya masih bisa. Being normal again. Duh, gak tahu deh harus ngungkapinnya gimana.

Maaf kalo lagi-lagi saya harus mbahas kemoterapi di blog saya yang tercinta ini. Apakah masih ada yang mau baca atau nggak biarlah. Yang pasti saya bahagia bisa nulis pengalaman saya yang gak mudah di sini. Intinya, kalo orang bilang surga dunia itu mungkin dapet undian milyaran rupiah, bisa punya rumah berapa kali lipatnya negara Indonesia, atau bahkan malam pertama. Buat saya surga dunia itu cukup dengan bebas kemoterapi, menjalani hidup seperti sedia kala, hidup bahagia bersama keluarga dan suami saya. Tentunya dalam keadaan kami sehat. Udah. Cukup bahkan lebih dari cukup.

Minggu lalu saya cek up lagi ke dokter. Lalu dokter lihat perkembangan saya yang sangat signifikan. Dan dia bilang kalo 6 bulan ke depan HCG saya selalu normal, siklus menstruasi saya normal, dan saya sehat, saya sudah diperbolehkan punya anak. Duh waktu denger itu rasanya saya legaaaa banget. Tuhan, jika Engkau mengizinkan mau banget saya punya anak walaupun masih harus nunggu beberapa bulan lagi. Mau banget saya hamil lagi setelah kehamilan pertama saya yang kemarin gak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tapi saya masih mau, SUER :')

Sekarang, rambut saya udah mulai tumbuh banyak. Kulit saya yang tadinya menghitam efek kemoterapi udah mulai memutih lagi sedikit demi sedikit. Kuku saya juga udah hampir normal. Tadinya serem banget liat kuku saya menghitam. And you know what? KETOMBE! Setelah sebulan lebih saya lepas dari kemo, kemarin saya nemu ketombe di rambut saya dan itu rasanya kok bahagia ya (emang sih ini aneh banget). But serious, selama kemo jerawat ketombe dan hal-hal sepele kayak gitu sempet cuti sementara dari hidup saya. Walaupun jerawat dan ketombe bukan hal yang baik dan gak saya suka tapi saat mereka datang kembali saya kok rasanya gimanaaa gitu.

I feel so' normal. Sangat-sangat normal. Gak nyangka aja, waktu saya jalan-jalan berdua dengan suami gitu saya kayak lupa kalo saya pernah sakit lumayan parah. Tuhan baik banget sama saya sumpah! Dia memberi apa yang gak pernah kepikir di hidup saya bahwa saya bakal dapet itu. Dan Dia memberi banyak hal yang rasanya pait dan gak enak tapi ampasnya manis banget. Dan saya percaya bahwa tidak semua orang bisa dapet berkah seperti itu. Rasa bersyukur bahwa saya masih bisa hidup dan merasa bahagia itu tak tertandingi aja gitu. Walaupun setelah semua yang buruk sudah berakhir tapi saya masih harus menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang gak mudah, tapi rasanya apa yang Tuhan kasih ke saya udah lebih dari cukup. Dan walaupun jujur aja saya masih suka mengeluh dan marah-marah sama Tuhan saat ada banyak hal berat yang masih harus saya tanggung setelah saya sembuh dari sakit, tapi diluar itu semua rasa syukur saya mungkin sebesar luasnya surga. Baiklah kalo yang barusan itu emang berlebihan, but I wonder apakah surgaNya Tuhan itu seindah apa yang saya rasakan sekarang? Atau bahkan lebih indah lagi? 

Only God knows :')

Jumat, 08 Maret 2013

Merenung atau direnungi?

Hhhhhh *ceritanya menghela nafas panjang*
Udah dari kapan ya saya jarang posting tulisan di blog lagi? Kadang khawatir pembaca bosan baca tulisan saya tentang sakit terus. Iya maksudnya tulisan tentang saya sehat itu jauh lebih baik kan? ;)

Masa-masa di mana saya harus bulak balik untuk rawat inap di rumah sakit itu sudah berlalu. Sudah sekitar 1 bulan lamanya. Tapi ketakutan akan kembali lagi ke masa-masa itu atau mengalami lagi benar-benar bikin saya takut. Pikiran saya jauhhh sekali melanglang ke sana, sepersekian detik dari saat otak saya memang sedang bekerja. Memang tidak banyak tapi lumayan sering. Tapi ya mau gimana lagi, berdoa selalu. Berusaha untuk yakin dan percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya dengan sangat baik sudah, berusaha untuk hidup lebih sehat dibanding sebelum sakit juga sudah. Jadi hasil akhirnya serahkan saja pada Tuhan. Saya memang sedang belajar pasrah. Pasrah akan hidup saya. Pasrah pada Dia, yang ber-Hak.

Tugas saya sekarang adalah melanjutkan hidup. Tentunya dengan yang lebih baik. Tapi, gimana ya namanya juga hidup. Dan serialnya tetap harus berjalan. Setelah kemoterapi berakhir, saya bebas dari menghadapi rasa sakit dan sebagainya. Tapi tidak semudah kelihatannya. Saya dan suami saya masih harus berjuang. Berjuang dalam banyak hal. Saya berusaha untuk selalu kuat. Karena lagi-lagi kuat adalah pilihan terakhir saat Tuhan mengharuskan kita untuk kuat. Namun saya juga tidak sekuat kelihatannya. Saya masih sering menangis, mengeluh, marah pada Tuhan, menyalahkan keadaan, dan hal-hal buruk lainnya. Dan menyesali keadaan kemarin. Lalu berandai-andai sendiri andaikan kemarin itu saya tidak sakit. Yess, I'm!!

Padahal Tuhan sedang menggojlok saya agar apa? Agar lebih ikhlas menerima sesuatu yang tidak saya harapkan. Minimal berani menghadapi kenyataan yang kadang tidak/bukan yang saya mau. Memang gak mudah. But trust me, saya selalu berusaha. Mendadak saya ingat hal-hal yang saya minta pada Tuhan sebelum sakit. Tentang saya yang ingin punya banyak waktu menulis. Tuhan kasih. Tentang saya yang ingin punya kegiatan amal yang memang pada dasarnya ingin membantu orang-orang yang membutuhkan. Tuhan kasih. Kurang baik apa cobak Dia mengabulkan permintaan saya. Lalu kenapa saya masih saja mengeluh? Bahkan teramat sering. Itu yang selalu jadi pertanyaan saya setiap hari. Tapi masih suliiiit saya lakukan.

Dan hari ini saya dapet kabar bahwa saya dapat kenang-kenangan giveaway yang diadakan oleh Mbak @puanlangit . Terima kasih banyak Mbak. Saya salah satu orang yang mengirim tulisan yang dia kasih kenang-kenangan. Yang ajaib, alasan dia bikin giveaway itu karna dia ingin belajar lebih bersyukur dengan belajar dari pengalaman orang lain tentang doa dan kesabaran. Saya melihat, semuanya benar-benar sudah diatur demikian rapi oleh Tuhan. Seolah-olah kami harus sama-sama belajar. Saya dikasih sakit tapi berkah ini, agar supaya orang-orang bisa belajar dari pengalaman saya. Maaf bukan sombong atau apa, karna saya tidak mau menjadikan pengalaman sakit saya kemarin jadi sebuah pembelaan/pembenaran akan setiap langkah yang saya ambil. Setiap saya kirim tulisan (kemanapun) tentang pengalaman sakit saya itu, saya selalu berfikir minimal kalaupun tidak menang tapi orang-orang yang membaca bisa belajar dari tulisan saya. Dan memang saya mau, orang-orang bisa lebih belajar mencintai Tuhan. Bukan berarti saya sudah bisa sepenuhnya. Setiap hari, saya pun belajar. Baik dari pengalaman sendiri ataupun dari pengalaman orang lain. Tak peduli medianya dari mana, yang penting belajar. 

Dan ada manfaat yang bisa saya dapat dari sana :">

" Thank God I'm alive."




Rabu, 27 Februari 2013

Menjadi Penulis Lepas



Hhhhhh ... Siapa bilang nulis itu gampang, mudah dan gak keren? Banyak sih yang bilang. Dan yang bilang itu orang-orang yang tidak mengerti bagaimana menjadi seorang penulis. Atau bagaimana teknik menulis yang baik. Apalagi orang-orang yang beranggapan bahwa hasil dari nulis itu gak akan seberapa (secara ya, zaman sekarang orang mau melakukan sesuatu karna ada hubungannya dengan duit. Di luar itu, they say NO!) Bahkan waktu saya ikut komunitas amal aja ada seorang temen yang nyangkanya saya bekerja untuk mereka. Dan bekerja di sini dalam arti, DIBAYAR. Padahal namanya beramal kan, bukan cari duit. Beramal dan bekerja, dari suku kata dan artinya aja udah beda!

Balik lagi ke menulis. Saya hobby menulis sejak kecil. Dan mulai menjadikan itu cita-cita setelah menjelang besar (sebutan pastinya ABG mungkin yah) :)) Dan sekarang setelah pure jadi Ibu rumah tangga saya mulai menjadikan menulis itu profesi. Kalau profesi, ada embel-embel uang kan? Padahal ada seorang temen saya lagi yang bilang bahwa jangan menjadikan menulis itu profesi. Suami saya pun bilang begitu. Bukan karena itu konotasinya negatif. Tapi kalau profesi, patokan kita hanya uang. Khawatir melupakan kualitas. Maksudnya begitu. Tapi karna 1 dan lain hal, saya mencoba untuk menjadikan itu profesi.

Dan saya memilih menjadi penulis lepas (berbayar). kalau dilihat dari segi uang, jelas tidak besar jumlahnya. Tapi lumayan ya bok, buat belanja online :D Lalu dari banyak situs yang saya lihat di internet tentang penulis lepas yang dibayar sedikit tidak sedikit orang yang tidak terima karena bayarannya kecil. Katanya seolah tidak menghargai penulis. Dan menulis itu kan hasil pemikiran yang tidak mudah. Bukan berarti saya setuju dengan bayaran kecil. tapi menurut saya, jika ingin mendapat penghasilan yang besar dan ternyata dari menulis itu kecil ya kenapa gak coba cari yang penghasilannya besar. 

Sederhananya begini, segala sesuatu yang kita kerjakan jika kita sukai pasti tujuan utamanya tidak akan mengarah ke uang. Karna jelas kita menyukai jenis pekerjaannya. Tapi jika tujuan utama cari uang yang banyak, ya berusahalah di pekerjaan yang memang layak mendapat bayaran tinggi dan bergengsi. Dan banyak pula yang bilang bahwa menulis itu butuh hati yang besar. Selain dari hasil kecil yang didapat, juga terhadap berbagai kritik orang mengenai tulisan kita. Saya keluar kerja lalu memutuskan untuk jadi Ibu rumah tangga agar punya banyak waktu menulis, karna memang keadaan. Saya sempat sakit cukup lama. Tapi banyak orang di luar sana yang dengan berani mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya lalu ia menjadi full time writer. Dibanding saya, mereka jauh lebih hebat. Berani mengambil dan menghadapi berbagai resiko. Tapi kan, suatu hari nanti mereka tinggal memetik hasil yang dicapai. Be a pure writer. Saya mau jadi salah satu dari mereka. Walaupun mengesampingkan tujuan materi memang agak sulit, hehe (jujur donk!). Tapi selama kita menyukai dan menikmati apa yang kita kerjakan, saya percaya itu akan mengurangi jumlah keluhan :)

Minggu, 17 Februari 2013

#LoveAction with @BFLactBandung :)

Baiklah. Senin moody ini adalah senin yang paling good feelin selama saya hidup di dunia (OK. Itu lebay) :D Tapi, senin ini adalah efek baik dari 'feelin good by doing good' moment hari Minggu kemarin :')

Tanggal 17 Feb 2013 jadi moment berharga buat kami kakak-kakak fasil yang mau dengan ikhlas jadi volunteer acara #LoveAction di Panti Asuhan Bandung. Aksi amal di bulan Febuari ini diadakan dalam rangka hari kasih sayang. Atau let say, berbagi kasih sayang dengan adik-adik di panti asuhan. Komunitas khusus area Bandung ini, terbilang mentah. Karena baru banget mau dan akan dibentuk. Tapi Alhamdulillah, dengan niat tulus kami ingin berbagi dan membantu adik-adik di panti tanpa modus terselebung apapun. Tuhan berperan serta dalam pembentukan dan persiapan aksi ini. Tak hentinya saya berterima kasih, karena Tuhan sangat merestui niat kami dan mempermudah acara ini dari awal hingga di hari-H.

Tak ada yang lebih membahagiakan lagi saat saya melihat kebahagiaan mereka menyambut kedatangan kami. Dan sumbangan yang pada awalnya minim dana serta keterbatasan sumbangan ternyata melimpah ruah menjelang hari H serta di hari H. Subhanallah sekali mereka yang dengan tulus mau menyumbang untuk adik-adik kami. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka dengan berkah yang juga luar biasa berlimpah. Amin Ya Rabb.

Dan saya juga salut double-double sama kakak-kakak volunteer yang di tengah kesibukan mereka masih mau menyempatkan diri untuk bergabung, ikut mempersiapkan, ikut menyumbang ide, ikut menyumbang banyak hal untuk adaik-adik di sana. Dan semoga kakak-kakak fasil juga diberi sehat dan bahagia oleh Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin.

Karena buat saya pribadi, yang namanya menyumbang, membantu, menolong, dan mau berpartisipasi tanpa bayaran apapun sungguh sebuah panggilan hati. Walaupun saat itu yang menyumbang dana tidak seberapa, tapi buat kami sumbangan itu jumlahnya sangat besar. Karena, (lagi-lagi) menyisihkan sebagian harta kita (walaupun sedikit) untuk amal itu biasanya disertai keengganan yang luar biasa berat untuk sebagian orang. Apalagi jika jumlah yang disumbang banyak. Itu artinya, sungguh mulia sekali hati mereka :') 

Dan saya bersyukur, saya bisa ikut berpartisipasi dalam menolong orang. Walaupun tidak banyak yang bisa saya kasih ke mereka, tapi melihat kebahagiaan mereka saja itu sungguh luar biasa buat saya bahagia. Anak-anak itu tidak pernah minta dilahirkan. Tidak pernah minta untuk dikirim ke dunia. Jadi, jika mereka dikirim Tuhan ke dunia dengan 'berbagai hal kekejaman yang ia dapat semasa hidup' , buat saya sungguh tidak adil. Saya ingat dulu pernah ada yang bilang bahwa, kebahagiaan itu hak mutlak setiap orang. Jadi, kebahagiaan itu tidak dipilih. Tapi kita memilih ;')
Dan saya berdoa, semoga Tuhan juga selalu memberi adik-adik di sana kesehatan dan kebahagiaan. Serta punya masa depan yang sesuai dengan apa yang mereka mau. Amin Ya rabbal Alamin O:)


Beberapa sumbangan sembako, makanan, mainan, buku, and all


Perpus mini yang mudah-mudahan bisa jadi perpus besar


Pembukaan acara


Lihat wajah2 innocent mereka :')


Penutupan acara


Hadiah games


Kakak-kakak fasil :')

We're going miss u all, babe ... *Big love and hugs*

Kamis, 14 Februari 2013

End of the fucking chemo treatment

Selamat siang blogger, rasanya siang ini ingin berteriaaak ... AKHIRNYAAAA!!!!

Pengobatan yang melelahkan ini berakhir juga. I'm totally free from this fucking chemo!!!
Setelah kemo ke-6 kemarin, lalu menunggu hasil lab seminggu kemudian. Akhirnya saya dibebaskan dari kemoterapi. Itupun setelah saya melewati beberapa rintangan terlebih dahulu. Kalau istilah anak SD-nya, saya sempat musuhan dulu sama Tuhan karena merasa doa saya tidak didengar (terdengar kafir ya itu kalimat) :))

Dua minggu setelah kemoterapi ke-5, HCG saya 1,83. Karena perjanjian awal dengan dokter tinggal 2 kali lagi kemotrapi, so' saya dan keluarga hanya berfikir bahwa tinggal 1 kali lagi kemoterapi setelah 1,83 ini. Tapi ternyata dokter bilang, kita lihat hasil HCG setelah ini. Kalau bisa turun sampai 0 koma sekian kemoterapi bisa dihentikan. Tapi jika belum, tambah lagi 1 kali. Dan kami sekeluarga seperti berlomba-lomba berdoa pada Tuhan agar HCG saya di angka 0 koma. Kami juga optimis dan yakin kalau setelah ini akan jadi kemo terakhir. Saya yang biasanya pesimis pun mencoba untuk optimis. Mencoba untuk yakin bahwa Tuhan sepenuhnya akan mengabulkan doa kami.

Subhanallah, di kemo ke-6 efek dari kemonya luar biasa menyakitkan. Tentunya selain mual muntah yang berkepanjangan, seluruh badan saya sakit sekali. Saya merasa (maaf) lumpuh sementara. Menggerakkan badan sedikit saja sakitnya luar biasa. Saya nggak tahu apa saya yang manja tidak bisa melawan rasa sakit, atau memang badan saya sudah sepenuhnya menolak obat-obatan itu masuk ke tubuh saya sehingga rasa sakitnya luar biasa. Saya sampai berfikir, saya bisa saja meninggal gegara efek kemoterapi itu. Seriously, akal sehat saya seolah sudah tak bisa diajak kompromi untuk bersatu melawan rasa sakit.

Setelah kemo ke-6 tersebut, saya mulai menata hidup sedikit demi sedikit. Dengan modal keyakinan dan doa bahwa saya memang tidak akan kemoterapi lagi. Saya juga mulai membuat planning-planning baru untuk kelanjutan hidup saya. Hingga saatnya tiba saya harus melihat hasil HCG. Namun betapa kecewanya saya ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Penurunan rata-rata yang biasanya 90% mendadak jadi hanya 30%. HCG saya turun, tapi hanya sedikit. Dia berhenti di angka 1,21. Tuhan! Saat itu juga saya menangis. Saya menangis dan menangis. Saya dan keluarga merasa kami sudah melakukan apa yang memang harus kami lakukan. Berdoa dan meminta pada Tuhan, dan mempercayakan semua hasilnya pada-Nya. Tapi kenapa hasilnya sungguh mengecewakan. Dan bayangan kemoterapi selanjutnya menjadi hantu yang menakutkan untuk saya.

Untuk saya pribadi, kejadian itu sangat memukul. Hati saya berontak. Otak saya menolak menatah-mentah. Dan seumur hidup, saya baru merasakan ada penolakan yang begitu hebat terhadap sesuatu. Yaitu terhadap kemoterapi ini. Jiwa dan tubuh saya sudah benar-benar tidak mau tahu akan adanya obat-obatan yang akan masuk lagi ke tubuh saya. Saya pun menolak. Tapi orang tua saya merayu saya agar mau 1 kali lagi kemoterapi. Mereka bilang perjalanan saya yang panjang ini akan sia-sia jika saya menyerah. Walaupun saya juga mati-matian mencoba untuk menerima, tapi tetap. Saya MENOLAK!

Satu hal yang pasti. Saat itu saya merasa sangat MARAH yang luar biasa pada Tuhan. Saya merasa sudah cukup apa yang saya lakukan untuk Dia tapi Dia belum juga mengabulkan permintaan saya. Saya tahu kalimat tadi terdengar tidak sopan, terdengar hina, terdengar 'memangnya saya siapa berani-beraninya marah pada Tuhan'. Tapi entahlah, saya benar-benar merasa bahwa Tuhan memang sedang menyaksikan kemarahan saya. Saya menangis sambil berkata, What do You want from me God? And I can't trust anything. Saya tetiba tidak percaya pada doa, harapan, dan pikiran optimis. Saya merasa semuanya sangat sia-sia. And my hubey just hug me and say, " Kalau kamu merasa sudah tidak kuat. Berhentilah. Toh tidak ada jaminan pasti apakah kemoterapi ini akan benar-benar bikin kamu sembuh. Dan serahkan saja semuanya sama Tuhan" Saya tidak mengerti, insting hati dan pikiran saya sangat bertolak belakang.

Hingga akhirnya, dokter bilang dengan entengnya bahwa HCG saya masih normal. Dan memang yang penting normal tidak di atas 5. Jadi, ya sudah kemoterapi ini bisa dihentikan. Alhamdulillahhhh. Ternyata Tuhan memang mendengar doa kami semua. Rasanya maluuuu sekali saya sudah berburuk sangka pada-Nya. Berulang kali saya sisipkan maaf di setiap doa saya. Dan saya percaya bahwa Tuhan Maha Pemaaf. Sayanya aja yang kurang ajar. And now, I stand up to facing everything. Saya harus siap menghadapi segala hal. Saya harus menunggu 1 tahun untuk punya anak. Dan masih kontrol HCG 2 minggu sekali. 

Terima kasih Tuhan, Engkau selalu menjadi pelindung di setiap kesulitan. Dan terima kasih semesta, sudah berkonspirasi dengan alam yang juga ikut mengabulkan doa saya. Saya masih selalu berdoa dan meminta bahwa setelah ini, kejadian-kejadian buruk kemarin tidak akan terulang. Tak ada lagi yang namanya kemoterapi, TTG, atau bolak balik rumah sakit (kecuali jika nanti saya melahirkan). Saya harap setelah ini, saya mulai menata kembali puing-puing yang kemarin sempat hilang. Dan saya akan tetap menjalani keseharian saya sebagai penulis. Thanks All, thanks for reading my story :)

Sabtu, 26 Januari 2013

I have no hair



Source : from google.com

Mengingat post blog saya yang sebelum ini, saya ingin membahas sedikit tentang rontoknya rambut saya. Memang sebenernya gak gitu penting. Siape elo kalo kepala lo botak :P
Tapi ini tentang makna kehilangan (lagi-lagi saya belajar dari sebuah kehilangan). Why? Why God must take my hair from my head? WHY?! Pada awalnya itu yang ada di pikiran saya. Sampai pada akhirnya saya membiasakan diri dengan hidup tanpa memiliki helai-helai rambut. And I do it so' well ;)

Satu per satu rambut saya berjatuhan. Setiap hari setiap detik setiap saya bergerak. Rasanya tak ada yang lebih melelahkan dari memungut rambut-rambut saya yang berjatuhan setiap hari. Mama mengumpulkan rambut-rambut yang (berhasil) kami dapat di dalam sebuah keresek. Katanya kenang-kenangan. Satu hal yang pada akhirnya buat saya takjub diikuti rasa bersyukur. Rambut saya sudah rontok banyak, bahkan tak ada jeda setiap waktunya. Tapi saat dilihat kembali, rambut saya yang sudah jatuh di dalam keresek saja jumlahnya sudah sangat banyak. Belum yang jatuh tersapu. Atau yang saya buang di kamar mandi. Belum juga yang jatuh di tempat lain. And you know what? Di kepala saya masih banyak terdapat rambut yang menempel. Walaupun sebagian pitak, dan lama-lama botak di bagian atas. Tapi sisanya masih banyak. Begitu baiknya Tuhan kasih saya rambut tebal. Padahal dulu saya sering mengeluh dengan rambut tebal saya. Karena susah banget diatur. Sedangkan teman-teman saya punya rambut yang tipis dan lurus, nggak bandel. Sedangkan saya, ditipisin ke salon aja udah tebal lagi dalam hitungan minggu.

BUT NOW, saya luar biasa bersyukur. Kalau dulu rambut saya tipis, dalam hitungan hari mungkin saya langsung botak gitu aja. Tapi dengan ketebalan rambut tersebut, rambut saya masih bisa bertahan di kepala jauh lebih lama. Sampai kemoterapi ke-6 kemarin akhirnya saya memutuskan memangkas habis rambut saya yang tersisa di kepala. Biar gak usah nunggu lama untuk rontok semua. Dan biar bakal-bakal rambut yang akan tumbuh juga cepat tumbuhnya.

And JRENG! I have no hair. When I see myself on mirrorr, saya seperti melihat orang lain. Bukan orang lain dalam arti wujud orang lain. Tapi dalam arti saya yang lain. Saya dengan pribadi yang berbeda. Sedih memang melihat kepala saya tanpa rambut, saya bahkan sering bilang pada suami saya dimohon untuk tidak ilfeel :D Tapi thank God, kepala botak saya selalu kami jadikan lelucon. He always kiss me, when I say that saya nggak PD sama saya yang sekarang. He always said, I'm beautyfull for him :')

Banyak juga yang menyarankan saya agar pakai kerudung. Akan saya bahas sedikit di sini. Mohon maaf sebelumnya saya tidak ada maksud menyinggung siapapun. Ini murni pendapat pribadi saya. For me, berkerudung itu adalah komitmen saya dengan Tuhan. Bukan hanya sekadar menutup aurat saja. Dan kenapa harus komitmen? Itu artinya saya harus mulai membiasakan diri dengan memperbaiki diri dari hal-hal kecil. Dalam hal ibadah pada Tuhan. Dengan begitu, saya nggak asal pake dengan tujuan hanya menutup aurat atau demi mengabdi pada suami. Saya tahu ada ayat dalam al-qur'an yang menjelaskan tentang menutup aurat dan pengabdian pada suami. Bukan berarti saya tidak mau mengabdi pada suami. tapi, memakai kerudung itu is just physicaly. Saya yakin Tuhan pun akan setuju bahwa hal-hal baik itu datangnya dari dalam hati kita sendiri. 

Jadi, bukan tidak mau tapi saya belum sepenuhnya siap memakai kerudung. Apalagi kalau niatnya karena ingin menutup kekurangan. Bukan karena dari hati, karena pengabdian kita pada Tuhan. Saya masih bisa pakai penutup kepala/wig or whatever like that. So I change my style of it :D

Jadi, simple saja. Bahwa segala hal yang kita punya di dunia ini bahkan sehelai rambut pun. Itu bukan milik kita. Itu sepenuhnya milik Sang Pencipta. Dan Dia bisa mengambilnya kapan saja. Jika saya selalu menerapkan cara hidup berke-Tuhan-an, pada akhirnya saya siap dengan keadaan tak punya rambut. Dan saya sedikit demi sedikit mulai menerima keadaan ini. Saya percaya, Tuhan akan kasih apa yang saya pesan dalam do'a di saat yang sangat tepat. Dan jika tidak, Ia akan mengganti dengan yang lebih baik.

For a such thing, I gratefull much to God. For everythings, what God gave me ;)

Jumat, 18 Januari 2013

Hujan pun ada masanya reda

Baiklah, setelah sekian lama saya menghilang dari blog ini lalu saya jadi buronan gegara jarang nulis (bohong denk!) :D saya pun akhirnya mau menulis lagi. Mudah-mudahan tak ada yang bosan membaca kisah penyakit saya. Hope, it'll be an inspirational story for everyone. Siapapun. Yeah, hope :)

Saya akan mulai dari cerita terakhir saya tentang penggantian renjimen (bahasanya dokter) kemoterapi dari MTX ke EMACO. Setelah kemoterapi ke-3 yaitu EMACO pertama, HCG saya kembali turun drastis. Dari 1000 menginjak ke angka 100. And it's great. Bahagia sekali rasanya. Walaupun membayangkan efek-efek dramatis yang harus saya lalui setiap sehabis kemoterapi. And thank God, saya pernah bilang bahwa kelak air mata saya akan berharga. Akan ada pelangi setelah hujan turun. Dan judul blog saya ini bukan tentang hujan sebenarnya (terlepas dari bencana banjir yang sedang melanda Ibukota) :( tapi ini murni tentang cerita penyakit saya.

Setelah kemoterapi ke-4 akhirnya dokter kasih saya waktu 2 minggu. Karena tadinya dokter kasih saya waktu 1 minggu. Ternyata pemulihannya kurang, sampai saya sempat harus tranfusi darah 1 labu gara-gara HB saya turun. Penyebabnya muntah-muntah yang sering itu. Melihat penurunan HCG yang bagus dokter pun kasih waktu jeda 2 minggu. Alhamdulilah. Buat saya itu salah satu mukjizat dari Tuhan. God is always hear my pray. I love it. Dan dalam jangka waktu 2 minggu itu benar-benar saya manfaatkan waktunya untuk pemulihan dengan makan yang banyak. Dan penaikan berat badan lagi. Gak susah emang kalo naikin berat badan berhubung saya suka sekali makan (Damn! Konotasi suka sekali makan ini maksudnya rakus ya) :D

Setelah kemoterapi ke-4. HCG saya turun kembali menjadi 6. Tuhan! Yang saya tahu, angka negativ target saya dengan dokter itu adalah di bawah 5. Dan angka 6 ini angka yang nanggung sekali. Jika saya sudah mencapai angka di bawah 5, sudah terprediksi kemoterapi saya tinggal 2 kali. Saya jelaskan sedikit kenapa harus ada penambahan 2 kali setelah kita mencapai angka negativ. Dokter bilang, agar penyakit saya tidak muncul kembali. Dan agar sel-sel yang berencana untuk tumbuh tidak jadi tumbuh. Baiklah, kalau tujuannya baik saya ikuti. Dan waktu melihat angka 6 di HCG saya, sebenarnya saya sangat bersyukur. Bersyukur karena turun, tidak naik atau tetap. Hanya tanggung saja. Tapi tak apa, saya sudah bahagia. Saya bilang pada orang tua saya, sebenarnya membayangkan harus kemoterapi 2 kali lagi saja pembayangannya sudah cukup berat. Apalagi masih 3 kali. Dan sayup-sayup saya dengar mereka bilang bahwa sebenarnya mereka pun tak tega melihat saya kemoterapi. And I'm craying alone. Saya semakin bertekad untuk harus sembuh dan kuat menjalani efek-efek kemonya demi mereka. Juga demia suami saya.

Alhamdulillah. Saat kontrol ke dokter, dokter bilang hasilnya bagus. Walau saya bilang angkanya nanggung. Ternyata! Ada lagi keajaiban dari Tuhan. Dokter bilang, HCG saya sudah normal. Dan kemoterapi saya tinggal 2 kali lagi. Saya sampai berteriak kegirangan. Sampai harus make sure berkali-kali pada dokter bahwa kemoterapi saya benar-benar tinggal 2 kali. Saya pun bertanya, kenapa sudah dinyatakan normal sedangkan setahu saya angka normal itu di bawah 5. Tapi dokter bilang, sebenarnya di bawah 10 juga itu sudah terbilang normal. Memang sih tiap dokter tindakannya beda-beda. Yang saya tahu, dokter lain tetap harus di bawah 5 untuk mencapai batas normal. But I beleive in the doctor. Dan saya percaya pada Tuhan. Apapun rencana baik yang sudah Ia rencanakan untuk saya, saya percaya itu baik juga untuk hidup saya. 

Kemoterapi ke-5. Rasanya jauhhhh lebih sulit dari sebelumnya. Bahkan pemulihan di rumah saja sampai 3 hari. Padahal biasanya 2 hari cukup. Di hari ke-3 saya sudah bisa makan sedikit-sedikit. Tapi kemarin itu, saya baru bisa makan di hari ke-4. Dan agak banyak keluhan di badan saya. Di bagian sana sini sakit sekali. Tapi di hari ke-4, masa-masa kritis saya sudah lewat. Dan segalanya lancar kembali. Alhamdulilah.

Rasanya kaya mimpi. Sedikit demi sedikit segalanya mulai mencapai batas normal. Oh, ya. Saya lupa cerita. Di kemoterapi yang ke-4. Rambut saya mulai rontok. Saya sempat menangis histeris melihat rambut saya rontok begitu banyak. Tapi keluarga saya selalu support. Mereka gak khawatir saya jadi botak selama bisa tumbuh lagi. Dan mereka tidak terlihat malu melihat saya botak. Pada akhirnya saya belajar meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya hanya belum terbiasa dengan mulai berjatuhannya rambut saya satu per satu. Banyak yang menyarankan saya pakai kerudung. Tapi tidak :) saya tidak mau menjadikan kekurangan sebagai alasan pakai kerudung. Dan jika setelah botak pun saya pakai kerudung, itu karna memang saya sudah mau dan siap. Bukan karna saya sedang tak punya rambut.

Hari ini, saya baru cek lab setelah kemoterapi ke-5. Dan alhamdulilah, HCG saya kembali turun. Sekarang di angka 1. Alhamdulilah. Mudah-mudahan kebaikan-kebaikan akan mulai berdatangan setelah ini. Sekali lagi saya tekankan. Hujan pun ada redanya, tidak akan selalu turun. Dan ada masanya pelangi turun ke bumi ;) Tujuan saya sekarang adalah selalu SEHAT. Dan bisa membahagiakan orang tua, suami, dan keluarga saya. For me, it's more than enough to be happy :)