Selasa, 23 Oktober 2012

Day One sebelum kemoterapi



Ternyata perjalanan saya setelah proses kuretase kemarin masih panjang. Mari kita berbagi cerita. Ujian sekaligus berkah yang sudah Tuhan titipkan pada saya. Belajar bukan berarti harus mengalami bukan? belajar juga bisa mencontoh dari apa yang dialami orang lain :)
            
            Saya akan selalu ingat hari ini. Tanggal 18 Oktober 2012, hari di mana saya sedang dalam posisi tiduran di kasur panjang berwarna putih yang tidak pernah saya suka. Sambil mengetik apalah namanya ini, mungkin cerita kehidupan. Di kolom blackberry yang tidak sebesar monitor PC.
            Sambil menonton acara Hitam Putih Trans7 *sebenarnya air mata saya juga sedang mengalir*, dan saya berusaha penuh bercerita di sini sambil menahan laju air mata yang sedikit-sedikit membasahi pipi. Saya juga berusaha agar tidak ada yang sadar saya sedang menangis. Saya khawatir orang-orang di sekeliling saya juga lelah melihat air mata saya.

            Hari ini saya cek up ke rumah sakit entah yang ke berapa kalinya. Dan Dokter bilang dengan lugasnya saya harus dirawat lagi di rumah sakit pemerintah ini untuk yang ke-2 kalinya. Kalau mendengarkan suara perasaan, saya menangis dan menjerit. Ya! Saya sedih! Karena saya manusia biasa toh? Oke, jadi dokter bilang saya harus menjalani rawat inap untuk kemoterapi. Kita semua tahu bahwa saat mendengar kata kemoterapi pikiran kita pasti mengarah ke penyakit kanker. Dan, tidak ada orang yang mau juga. Sebenarnya penyakit saya bukan itu. Tapi, saya kurang tahu istilah kedokterannya pastinya apa. Jadi kita sebut saja Mola atau hamil anguur.
            Kemoterapi yang harus saya jalani ini adalah efek dari hamil anggur yang sempat saya alami waktu usia kandungan saya memasuki minggu ke-10.  Dan dokter bilang, efek dari hamil anggur ini cenderung/potensi ganas. Untuk lebih jelasnya, silahkan googling biar Om Google yang menjawab J

            Saya sudah tidak lagi sibuk memikirkan apakah besok lusa saya akan dimarahi bos, apakah satu jam lagi saya akan nge-Mall, dan apakah nanti malam saya harus melayani suami. Yang saya pikirkan hampir setiap menit adalah, Tuhan saya mau sembuh saya mau sehat. Sebenarnya, kemoterapi yang akan saya jalani besok untuk pertama kali adalah satu-satunya jenis kemoterapi yang bisa menyembuhkan sel-sel kanker di dalam tubuh. Dan kemoterapi terringan dengan dosis yang ringan. Tapi dengan efek yang hampir sama. Saya masih bersyukur pada Tuhan bahwa penyakit saya bisa disembuhkan. However, I believe in God.
            Jujur, pada awalnya saya sulit sekali menerima keadaan ini. Saya ingin protes pada Tuhan. Dari sekian banyak wanita yang saya tahu/kenal, kenapa harus saya yang mengalami ini. Kehilangan bayi pertama saya, lalu harus menjalani sederet proses yang panjang dan sungguh melelelahkan. Tapi tadi saat saya sedang duduk di ruang tunggu pendaftaran rawat inap, saya merenung banyak hal. Berfikir lebih banyak. Saya mencoba mind-map kembali dan menata cara berfikir saya yang saat itu petanya sedang berantakan. Bahkan jika diibaratkan puzzle, potongan-potongan puzzle tersebut berlarian dan tidak menampilkan gambar secara utuh. Saat pikiran saya belum jernih, saya berfikir tentang berkah-berkah luar biasa yang Tuhan berikan. Dan saya mengumpulkan point-point tersebut.
            Yang pertama. Tuhan memberi kedua Orang Tua yang hebat yang tidak pernah lelah mendoakan saya, memberi saya semangat hidup, dan mensupport saya selama sakit. Orang Tua yang mati-matian melakukan segala hal untuk saya, anaknya. Dan mereka luar biasa sabar, walaupun saya tahu mereka juga melihat saya sakit. Atau juga sama lelahnya dengan saya. Tapi mereka tidak pernah memperlihatkan itu, mereka kuat demi saya.
            Kedua. Suami saya. Dulu, waktu saya masih jadi ABG tolol sok lugu saya selalu dipertemukan dengan cowok brengsek dan bukan cowok baik-baik. Sekalinya ada cowok baik, entah kenapa tidak ada jodohnya. Setelah menikah, saya akhirnya tahu alasan Tuhan. Itu karena saya lebih baik bertemu mereka dulu sebelum bertemu suami saya. Dan dengan baiknya Tuhan mempersatukan kami walaupun dengan jalan yang tidak mudah. Tapi kami berhasil melewati segala hal yang sulit itu. Dan Tuhan benar-benar sudah memberikan Pria yang tepat. Yang selalu saya pesan di setiap do’a saya kala shalat. Dia Pria sempurna versi saya. Dan dia mencintai Tuhan-nya lebih daripada mencintai saya.
            Di sini, saya tidak membahas tentang cinta mati atau cinta sejati. Tapi ini tentang hubungan yang bisa saling menguatkan. Buat saya, suami saya itu orang yang paling berlogika. Dia cerdas dalam menyikapi segala sesuatu. Dia juga yang menguatkan saya setiap hari saat saya harus menghadapi segala hal yang sulit. Dan dia terorisme paling berpengaruh dalam hidup saya yang sering menanamkan pikiran bahwa hidup itu sudah ada yang mengatur. Tidak ada hal sulit apapun yang harus kita takutkan selain Tuhan. Karena hanya Dia yang berkuasa penuh atas hidup kita. Suami saya juga yang mengajarkan saya untuk berfikir bahwa semua yang kita punya di dunia adalah milik Allah semata. Bahkan nyawa kita sekalipun. Jadi, materi bukan tujuan utama hidup.
            Ketiga. Adalah keluarga dan mertua saya yang tidak pernah bosan berdoa untuk kesembuhan saya. Begitu perhatianya mereka akan kesehatan saya. Begitu pedulinya mereka berdoa untuk saya. Buat saya, *orang-orang yang sudah saya sebutkan tadi* merekalah justru harta saya yang paling berharga yang dengan baiknya Tuhan titipkan pada saya. Hanya demi mereka saya bisa hidup dan bertahan. Dari segala kondisi hidup yang tidak enak.

            Dari situ, saya berfikir bahwa Tuhan justru terlalu baik pada saya. Mengirimkan Orang Tua, Suami, dan keluarga yang tidak henti-hentinya mendoakan saya dan menyayangi saya dengan tulusnya. Jadi kenapa saya harus bertanya, “ God why must me?” saat saya harus menjalani rasa sakit ini.
            Dan dengan alasan apa lagi saya harus mengeluhkan ujian-ujian dalam hidup saya. Buat saya, hidup saya malah terlalu sempurna. Tuhan sangat sayang pada saya tanpa terkecuali. Karena Dia membiarkan saya belajar banyak hal. Tidak setiap orang bisa belajar dari rasa sakit, dari keadaan atau pengalaman yang tidak mengenakkan. Tapi Tuhan memberi saya kesempatan, untuk belajar banyak hal. Untuk bisa pintar membaca hikmah yang Dia berikan dan belajar dari sana.
            Jadi, saat saya sakit dan harus menjalani banyak proses saya tetap bersyukur pada Tuhan. Berkah yang Dia berikan di hidup saya sungguh luar biasa. Sungguh tidak bisa saya sangkal. Dia terlalu sempurna untuk memberikan hidup yang begitu sempurna. Saya tahu, doa dan harapan tidak akan membuat hidup kita “selalu” baik-baik saja tapi akan SELALU membuat kita bisa menyikapinya dengan baik. Dan kadang, doa yang kita panjatkan tidak selalu berwujud apa yang kita inginkan. Tapi justru berwujud apa yang tidak pernah kita harapkan. Malahan dengan maksud mengabulkan doa kita.
            Saya bukan mau belajar jadi ustdzah seperti Mama Dedeh, saya hanya ingin setiap orang juga bisa belajar seperti saya. Belajar hidup ber-ke-Tuhan-an. Jadi, apapun yang terjadi dalam hidup kita selalu didasarkan Tuhan sehingga kita tidak takut akan apapun karena yakin Tuhan bersama kita dan mengatur semuanya dengan baik. Karena kita tidak pernah tahu skenario baik apa yang akan Tuhan tulis dibuku harian kita. Jadi, bersyukurlah! Apapun yang sudah Tuhan tentukan untuk hidup kita. Walaupun kita tahu bahwa itu tidak mudah untuk selalu diterapkan disetiap keadaan. Tapi saya selalu yakin dengan bersyukur, justru segalanya jauh lebih mudah.
            Terakhir saya sakit parah dan dibawa ke rumah sakit, dari situ saya mati-matian berdoa minta kesempatan pada Tuhan untuk tetap hidup. Untuk tetap kuat. Dan saat itu saya percaya bahwa Tuhan memang benar-benar sedang menolong saya. Dan Dia memang menyelamatkan saya. Di dalam bayangan saya, dia sedang menggenggam tangan saya dan berkata, “ I’m a proud of you cause you’re strong. And have more power.” Jadi saat itu saya bisa benar-benar kuat.
            Saya selalu ingat salah satu quote penyanyi terkenal Ahmad Dani, yang pernah bilang bahwa saat Tuhan berkata YA, semesta mendukung. Itu pula lah yang saya alami selama saya sakit. Tuhan sedang menguji hidup saya sekaligus mentransfer kekuatan sambil menggenggam tangan saya. I don’t know what to say, but … God is really GREAT. So’ I love You my Dear Allah SWT.  
             

Rabu, 03 Oktober 2012

Sudah terbiasa dengan kehilangan

Alhamdulilah, akhirnya saya ada di depan komputer kantor lagi. Duduk manis dan bisa sambil ngenet setelah kerjaan beres. Saya pengen cerita banyaaaakkk. Mudah-mudahan panjangnya gak ngalahin sinetron tersanjung. Tapi lumayan inspirasional kok (apalah arti kata-kata ini!).

Jadi ceritanya, saya inget banget. Tanggal  22 Agustus 2012. Pas setelah 8 hari saya telat menstruasi dan beli testpack. And then, jantung saya berderbarnya kenceng banget kayak baru pertama jatuh cinta in 5 years old (seriously!). Tangan saya gemeter saking senengnya liat 2 garis warna merah yang seolah melambai-lambaikan tangan ke arah saya. Suami saya cuma senyum-senyum and then he kiss my forehead. Dia bilang udah nyangka saya hamil diliat dari tanda-tanda keluhan saya sakit di sana sini. And I'am so' happy. More than just a happy. Kalau ada istilah lainnya untuk lebih bahagia daripada bahagia, mungkin maksud saya itu.
Sempet kepikir apakah saya mampu mengandung selama 9 bulan, apakah saya siap menghadapi moment-moment persalinan, dan yang terpenting apakah saya bisa jadi Ibu yang baik dan bisa mendidik anak saya jadi seseorang yang cerdas sesuai dengan yang saya mau. Tapi dengan bismillah, saya ikhlas menjalani semuanya. Walaupun menjadi seorang Ibu itu tidak mudah.

Masuk minggu ke 6 saya mulai sering mual bahkan sampai muntah. Hari-hari saya sudah berubah 360 derajat. Saya nggak suka bau parfum so' I never use it again. Sehari muntah bisa 2-3 kali. Saya gak mau dandan dan memang tidak dibolehkan memakai kosmetik sembarangan. Saya yang tadinya menomorsatukan penampilan diluar semua hal jadi seseorang yang cuek banget masalah penampilan. Jarang cuci muka sebelum tidur, keramas bahkan bisa 3 hari sekali. Teman-teman bahkan suami saya bilang kayaknya anaknya cowok saking pemalesnya. Haha. Walaupun saya pengen banget anak perempuan tapi saya syukuri saja kalau Tuhan memberi saya anak laki-laki.

Sampai suatu hari, saya udah nggak kuat banget dengan mual dan muntahnya yang kuantitasnya makin hari makin bertambah. Sampe nggak kuat pergi kerja. Tanggal 20 September malamnya saya dan suami periksa ke bidan. Maksudnya pengen liat anak kami lewat USG. Sebelum pergi, saya sempet berdo'a pada Tuhan semoga bayi saya sehat. Tapi sesampainya di sana, dan periksa USG saya dikagetkan oleh raut wajah bidan yang agak weird. Katanya saya harus periksa ke dokter kandungan. Karna bayinya nggak keliatan. Dan  prediksi bidan saya kayak hamil anggur alias hamil diluar kandungan. Saya langsung kaget, dan masih belum paham istilah hamil anggur ini. Tapi yang jelas, saat itu saya sedih banget. Bidan bilang kalau prediksinya benar, saya harus kuretase dan bayinya harus dikeluarkan. Sebisa mungkin saya tahan tangis di sana. Baru sampai di mobil, saya mulai saling melihat dengan suami saya. Dia hanya bilang saya harus banyak bersabar. Dari situ tangis saya meledak. Bahkan suami saya pun hanya bisa menggenggam tangan saya tanpa banyak bicara. " Kita lagi diuji lagi sayang ..." kalimat itu pun bahkan lebih dahsyat dari prediksi bidan tentang kehamilan saya. And I say to him that, " Aku rela mual sama muntah terus asal bayi kita sehat ..."

Besoknya saya langsung ke dokter kandungan di rumah sakit ibu dan anak, ternyata diagnosa dokter tersebut juga sama. Hamil anggur. Saya dirujuk lagi ke lab untuk tes darah hormon kehamilan atau biasa disebut HCG. Setelah hasil keluar, dokter tersebut merasa tidak sanggup untuk tindakan kuretase karena kadar hormon kehamilan saya tinggi sekali. Sampai bosan saya menangis. Kenapa saya harus kehilangan anak saya bahkan sebelum saya sempat melihatnya. But, lucky me. Tuhan mengirim seorang suami yang sangat sabar menghadapi saya. Saya tahu dia juga sama kecewanya dengan saya. Tapi dia berusaha sekali untuk terlihat lebih kuat dari saya untuk menguatkan saya.

Saya dirujuk kembali ke rumah sakit negri di Bandung karna saya harus ditangani dokter specialis onkology. Di rumah sakit swasta besar pun, specialis onkology tersebut tidak ada. Hanya ada di rumah sakit negri tersebut yang, maaf. Pelayanannya pun sungguh sangat tidak nyaman. Tapi ya terpaksa. Akhirnya dari tanggal 25 September saya dirawat di sana. Dan ternyata proses kuretasenya pun masih harus esoknya menunggu dokter yang bersangkutan. Saya masih mual, muntah, bahkan sudah tidak masuk makanan apapun. Belum lagi pihak rumah sakit yang cuek karna saya belum dapat suntikan infus. Malamnya, ternyata saya harus pasang alat yang dimasukan lewat vagina agar saya mengalami pendarahan dan agar rahimnya terbuka saat di kuret nanti. Subhanallah, sakitnya melebihi apapun. Saya sampai jerit-jerit kesakitan. Tidak bisa tidur nyenyak, dan ketegangan terus menghantui saya. Entah kejutan apa lagi yang akan saya terima.

Suami saya masih menemani bahkan memberi lebih banyak support. Walaupun saya tahu dia lelah bahkan rela meninggalkan pekerjaannya berhari-hari. Saya jadi tahu bahwa saya nggak salah pilih suami. He's the best!!! Tindakan kuretasi dimulai pada tanggal 26 September jam 10 lebih 15 menit sampai pukul 10.30.

Hikmah yang saya dapat setelah kuretase ini, saya berfikir bahwa mungkin Tuhan memang menyiapkan moment yang lebih indah untuk saya dan suami. Walaupun kami harus kehilangan anak pertama kami. Dari hari ke hari saya mulai ikhlas melepas dia pergi. Bahkan teman saya bilang, anak yang sudah meninggal di kandungan akan mendoakan orang tuanya suatu hari nanti. Amin Ya Rabal alamin saya sampai terharu mendengarnya. Mungkin memang saya juga belum sepenuhnya siap jadi Ibu. Dan saya percayakan semuanya pada Tuhan. Biar Tuhan yang menentukan segala yang terbaik untuk saya dan suami. Saya yakin, apapun yang saya lakukan dengan berdasarkan atas Tuhan, demi Dia, dan untuk Dia, segala sesuatu yang sulit akan jadi mudah. Saya tetap bersyukur, ini tanda bahwa Tuhan sayang sekali pada kami. Dan kami tetap semangat menyambut kedatangan anak kedua di saat yang tepat, di saat yang sudah Tuhan janjikan :)

Rabu, 22 Agustus 2012

It is about life, not life style!

Hoaaaaa. Akhirnya bisa juga nongkrong depan laptop walau kepala masih pusing-pusing agak kurang nice buat diajak mikir. Sebenernya saya pengen nulis blog tentang ini dari sekitar 2 hari yang lalu. Tapi berhubung kepala saya berat sama pusing ya terpaksa ditunda dulu :D (okelah ini sama sekali gak penting).

Jadi, awalnya saya berfikir pengen nulis tentang gaya hidup atau perubahan gaya hidup seseorang saat melihat gaya hidup seseorang yang memang sudah berubah jauh dari pandangan saya tentang dia. Sebut saja dia salah satu sahabat saya. Kenapa saya panggil dia sahabat? Karna buat saya, sahabat itu orang yang paling tahu saya dan pernah ngalemin masa-masa susah bareng. And she does.
Kita temenan dari SMP kelas 2, dia satu-satunya orang yang paling mengerti saya di masa-masa sulit saya dulu. Dia juga orang yang masih mau temenan sama saya walau tahu saya type orang emosian. Intinya, dia selalu ADA. Dan satu hal yang bikin kita cocok bahkan masih bersahabat sampe kita SMA dan bahkan kuliah adalah, dia cerdas. So' we have the same taste in everything. Dia juga yang banyak mengajarkan saya banyak hal, bahkan bahasa inggris (she's really good in english).

Kita satu sekolah di SMP, pisah di SMA, lalu ketemu lagi di kampus tapi beda jurusan. Saya dan dia nggak pernah putus hubungan. Dalam hal apapun kita selalu conected. Singkat cerita, saya adalah tempat dia menangis dan mengadu tentang cowoknya yang saat itu brengseknya ngalahin brengsek Zumi Zola (lah, emang Zumi brengsek?) :P 
Saya selalu siap untuk mendengarkan. Kita selalu bercerita tentang mimpi-mimpi kita berdua. Dari mulai tentang pasangan hidup sampai karir. Suatu waktu, saat saya masih berpacaran dengan pasangan hidup saya dia cerita bahwa dia baru saja menemukan the one. Menemukan pria yang selama ini ia cari. Saya senang, sangat senang. Di saat saya juga sudah menemukan orang yang tepat, and she's got it too! Tuhan memang membuat segalanya tepat di waktu yang tepat.

Tapi, satu hal yang membuat saya berubah pandangan tentang dia. Sahabat saya bertahun-tahun lalu. Cara berfikir dia. Dia pernah mengemukakan pendapatnya tentang pernikahan. Dia sedang melakukan segala cara agar fisik dia lebih baik dari hari ke hari, mulai dari luluran sampai perawatan. And all about physicall. Saya tahu itu bagus, tapi begitu mendengar alasannya. Dia bilang, dia melakukan itu agar calon suami akan selalu mencintai dia. Buatnya, dengan menjadi cantik pasangan hidup sudah dijamin tidak akan kabur ke perempuan lain. Dan banyak pemikiran-pemikiran dia yang buat saya sih melenceng. Bukan sebagaimana kehidupan itu seperti apa adanya. Saya sampai bilang sama dia, saya punya banyak perjuangan yang harus saya lakukan untuk ke jenjang pernikahan. Saya dan pasangan hidup saya banyak belajar dari rasa sakit dan perjuangan. Bagaimana Tuhan mengajarkan kami agar kami kuat menghadapi cercaan dan materi yang saat itu ala kadarnya. Demi menikah. Demi punya kehidupan yang lebih baik. Dan kenapa dia hanya sibuk memikirkan bagaimana  caranya menjadi cantik dan agar selalu DICINTAI???

Saya tahu, bahwa saat itu karir dia dan pasangannya jauh lebih baik dari saya dan pasangan saya. Bahkan dari situ saya mulai melihat bahwa gaya hidup dia sudah berubah. Saya tidak bilang materi, tapi buat dia sepertinya materi, kekayaan, kecantikan, itu adalah modal hidup dia untuk mendapatkan pasangan yang tepat, untuk mendapatkan rumah tangga yang bahagia dan hidup yang sempurna. Padahal, saya belajar lebih banyak dari itu. Buat saya kebahagiaan hidup lebih dari hanya sekedar materi berlimpah. Lebih dari sekedar apakah saya cantik atau tidak. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menghilang. Saya yang menghilang dari hidupnya. Saya yang memutuskan untuk tetap menjadi saya. Karna buat saya, gaya hidup kami sudah berbeda. Mungkin saya pun bukan sahabat yang baik, walau kadang how much I miss our moment. Tapi entah kenapa, saya yang pada akhirnya tidak bisa mengikuti gaya hidup dia. Saya yang tidak bisa mengikuti cara berfikir dia. Mungkin saya juga tidak benar-benar tahu alasan-alasan dia dan kehidupan dia yang sesungguhnya. Saya hanya menyayangkan, kenapa perempuan secerdas dia bisa melupakan bahwa kita pernah mengalami masa-masa sulit. Bagaimana kita bisa menghargai masa-masa sulit dalam hidup. Dan bagaimana kita bisa belajar menjadi seseorang yang tetap ingat saat kita di bawah saat kita sudah di atas.

Dear, 
you know that is the beauty of life more than IT!!!
I hope someday, kita sama-sama mengerti. Entah kamu yang mengerti cara aku berfikir atau aku yang mengerti cara kamu hidup. Yeah. Someday.

Kamis, 09 Agustus 2012

Kalau mau nulis tapi banyak alasan

Dem! Kepanjangan nggak sih judul postingan blog saya ini? Tapi gak papa ya. Gak akan masuk neraka juga kok. Suer :) Nah, beberapa hari yang lalu saya ngeklik tagged favorite di twitter. Favorite itu saya jadikan ruang khusus untuk catatan-catatan saya tentang penulisan dan hal-hal menarik yang someday bisa saya pake buat referensi buku saya. 

And I found 

Salah satunya di sana ada tentang ngoceh di blog. Dulu emang sempet kepikiran tapi saya sangat nggak PD. yah, isi blog saya aja gini-gini doank kok. Yang nengok juga gak full baca semua kan? Paling hanya beberapa. Tapi, gak ada salahnya juga kan ya kalo saya mulai sok-sok an promo. We never know kan ya :P

Sedikit histori, awalnya saya nggak ada niat mau nerusin novel yang udah bulukan alias nganggur gitu aja di komputer. Setelah saya baca ulang, kayaknya pas kalo saya terusin. Dari situ saya cari banyak referensi dari banyak sumber yang nggak bisa saya sebutin satu-satu *ntaran aja ya kalo udah terbit XD*. Terus saya olah jadi satu adonan. Please ini bukan kue, tapi cerita. Jadi, saya bikin konsep sesempurna mungkin. Oke, mungkin bukan sempurna ya, tapi is better than before. Dibanding novel-novel yang saya bikin di masa lalu. D'oh, masa lalu kesannya saya nulis dari zaman purba :))

Judul novelnya 1 perasaan 3 logika. Judul ini saya dapet 'ujug-ujug' pas saya lagi dibonceng (bok, dibonceng bahasa indonesia sopannya apa sih?) :D sama pasangan saya yang statusnya saat itu masih pacar. Di depan motor kita ada motor ber'pantat' kan stiker bertuliskan 1 logika 9 perasaan. Saya sama pasangan saya ketawa-ketawa pas baca stiker itu. Dia sampe bilang, itu kamu banget. Maksudnya, perempuan kan gitu ya bok apa-apa dibikin perasaan. Lain sama laki yang mainan utamanya adalah logika. Otak dia yang selalu dia pake. Dari situlah saya mengkombinasikan keduanya jadi 1 perasaan 3 logika.

Si logika dan perasaan ini saya jadikan lambang perempuan dan laki. Jadi another katanya adalah, 1 peremppuan 3 laki-laki :D Kalo dibikin gitu malah jadi komersil ya. Ehehe. Intinya, saya bikin karakter tokoh utamanya. Sekuat mungkin. Terus cari konflik-konflik mendasar yang bikin cerita ini menarik. Dari situ saya kembangkan karakter-karakter tokoh-tokoh lainnya. Baru deh sisi feelnya dimunculkan. Saya juga cari referensi dari hal-hal sekitar. Contoh gak jauh dari kantor saya. Masalah-masalah di sini saya angkat dikit-dikit. Biar masuk ke point cerita. Tadinya saya bikin deadline pribadi sekitar 2 bulan. Tapi melenceng jadi 4 bulan. Haha..

Saya punya banyak alasan kenapa nggak nulis. Iya capek lah, iya banyak kerjaan, iya banyak masalah, iya males, iya ilang mood. Pokoknya banyak. Tapi karna keinginan saya kuat ingin buku ini diterbitkan jadi saya hapus dikit-dikit. Cuma dikit loh :D (karna banyakan malesnya). Tapi akhirnya jadi. 196 halaman. Berarti gak ada lagi alasan kan untuk nggak mulai nulis. Kalo ngikutin males mulu ya kapan beresnya. Baru 1 penerbit yang nolak novel saya itu :P mungkin akan ada penerbit-penerbit lain. Tapi gak papa. Ini bagian kecil dari perjuangan saya. Ngalahin rasa malas aja bisa ampun-ampunan susahnya :)

So' mari mulai menulis. Walopun kemalesan-kemalesan dan alasan-alasan yang kita bikin selalu ada mengiringi langkah kita (bok, basa gue) :D

Everything can be happened :)

Kamis, 02 Agustus 2012

Kalau liat blognya cewek-cewek dan masih ada kata galau, Alhamdulilah saya udah nggak. Maksudnya udah nggak menggunakan kata itu lagi untuk pasangan. Tapi sometime menggunakan kata itu untuk pekerjaan. Oke, let say I didn't love my job. Tapi udahlah saya nggak lagi pengen curhat tentang pekerjaan.

Saya cuma merasa jadi perempuan yang paling beruntung dapet pasangan kayak kamu. Eh, suer deh kalo masih zaman-zamannya pacaran ngebahas tentang dia di blog itu nggak malu. Tapi sekarang udah married kok 'agak ragab' yah :D (ya udah deh, berdo'a yang khusyu kamu jangan baca blog yang ini) Hihi.

Dulu, di awal-awal pacaran kamu pernah bilang kamu akan selalu belajar jadi pacar yang baik, jadi lelaki yang baik buat saya. Be a good man kamu bilang waktu itu. Kamu pernah merasa kamu jauh lebih badboy dibanding saya yang nggak nakal-nakal amat. Padahal saya nggak pernah menuntut apa-apa. Dan selama perjalanan, akhirnya kita bisa saling mengoreksi dan menengahi tentang sifat kita masing-masing. Bisa saling mengingatkan. Tapi setelah kamu BENAR-BENAR sudah jadi lelaki yang baik buat saya, justru sekarang malah berbalik saya yang malu.

Saya merasa belum bisa jadi istri yang baik *komo deui solehah mah*. Saya masih selalu ngikutin ego saya dibanding logika saya. Sedangkan kamu udah bisa ngatur emosi kapan harus marah kapan harus diam. Kamu selalu berusaha ngikutin apa mau saya walaupun sebenernya kamu enggan atau memang nggak bisa. Tapi saya sebaliknya, saya masih memikirkan diri saya sendiri. Saya tahu sih saya yang masih harus belajar. Saya yang harus berusaha jadi istri dan perempuan yang baik buat kamu. Mungkin tanpa saya sadari, selama ini selalu kamu yang ngikutin kehendak saya. Bukan timbal balik. 

Kadang saya berfikir, di luar sana banyak perempuan yang nggak bahagia sama suaminya. Atau pura-pura bahagia demi kehidupan dia sendiri dan demi anak. Tapi saya jajauheun dari hal-hal kayak gitu. Karna saya tahu, kamu yang gak bisa ngalah buat orang lain tapi selalu bisa ngalah buat saya. Dan kadang saya yang merasa laknat banget. Tapi percayalah, dengan nulis di blog kayak gini juga itu namanya perenungan. Saya juga selalu berusaha jadi istri yang baik buat kamu. Dan jadi perempuan yang baik. Walopun definisi baik itu universal ya. Tapi saya berusaha banget mengimbangi kamu. Saya ga akan berusaha sempurna, tapi minimal gak nyakitin kamu terus :)

Jadi, marilah kita sama-sama berusaha mengimbangi dan saling menguatkan :')

Senin, 30 Juli 2012

The dream?

Mimpi.
Mendadak saya kepikir kata mimpi waktu entah lagi ngapain. Oya, waktu lagi lihat-lihat cake di internet. Mungkin kedengerannya sepele. Kata yang sangat sering orang gunakan untuk mencapai dan mendambakan kesuksesan sesuai dengan apa yang otaknya kreasikan.
Mimpi saya, Thank-God-pada-akhirnya-saya-tahu bahwa mimpi ini sangat sederhana dan nggak neko-neko. Mungkin yang sering stalking blog saya (maaf?) tahu kalo saya cuma suka nulis. Dan jelas kalo mimpi-mimpi saya nyangkut di tulisan.
Tapi entah kenapa, saya yang jelas-jelas gak punya jiwa bisnis mendadak pengen punya usaha. Bukan saya yang bikin atau produksi karna okelah saya nggak bisa apa-apa selain nulis dan sometime nyanyik (and some  people say that my voice is so' oke) :D

Yang jelas, yang kebayang di otak saya adalah someday saya bisa punya toko cake&bakery. Mungkin karna saya suka banget makan dan ngiler tiap liat cake-cake unyu yang sekarang lagi marak khusunya rainbow cake itu. Saya pernah nulis juga di sini tentang impian saya itu sampe saya search pic toko cake&bakery di Si Maha Tahu yang biasa kita panggil google. Duh, padahal saya nggak punya bakat bikin kue loh. Atau berkreasi di model-model kuenya gitu? Nope! Sama sekali nggak. Jadi ya udah pokoknya jangan tanya kenapa saya pengen punya toko kue. Ya pokoknya saya suka aja. Sama wangi roti-roti yang masih anget itu loh, menggodaaa banget.

And then saya pengen punya salon. Duh, beneran deh kayaknya saya mulai ngerti. Usaha-usaha saya itu berdasarkan atas kebiasaan-kebiasaan saya. Makan kue, Nyalon. See? Oke, next! Saya pengen punya salon perawatan dari ujung rambut sampe ujung kaki. Dan yang kebayang di otak saya adalah, selain saya jual jasa saya juga jual senyum. Hahaha. Kidding! I means, saya suka berimajinasi saya kayak tante-tante (please jangan dilihat dari sisi negatifnya) yang punya salon yang suka jadi tempat curhat customernya. Haha. Berlebihan gak sih imajinasinya? =))

Terus saya pengen punya boutique. Bukan hanya jual secara online kayak yang lagi ngetrend zaman sekarang tapi the real boutique. Yang dekorasinya banyak bunga-bunga (tapi bukan yang norak) dilengkapi nuansa pink peach. Udah gitu tempatnya gak usah gede-gede amat. Kecil tapi menawan gitu. Bok, bahasa saya terkesan kalimat gundul-gundul-tapi-menawan gak sih? :D
Keinginan saya yang ini juga sama. Berdasar dari kebiasaan saya shopping dan belenjong plus hunting baju-baju menawan (duh, kata menawan ini muncul lagi). Saya pengen saaat punya boutique nanti saya pake dekor sesuai imajinasi saya. Belom lagi, baju yang saya jual bakal saya murahin harganya. No, I means bukan murah tapi kejangkau lah sama ABG-ABG yang pengen tampil gaya. Haha *pengalaman pribadi bok* :D

For the last, saya pengen punya toko buku. Eh, bukan-bukan. Bukan toko buku kayak gramedia gitu. Tapi surganya buku tempat saya nyewain buku-buku saya. Ini juga diambil dari kebiasaan saya pinjam novel-novel dari perpustakaan. Nah, itu maksud saya bukan toko buku tapi perpustakaan. Bahaha. Saya ngerti banyak orang yang suka baca tapi gak semua buku bisa dia beli. Yeah, I think it's good. Saya sok-sok an sukarelawan banget ya :D But, seriously. Saya seneng baca dan baca buku dari perpus itu bikin saya kenyang kok. 

Oke. Selesai sudah saya membahas mimpi-mimpi saya selain jadi penulis. We never know what happen ya dear. Mungkin salah satu dari mimpi yang saya sebutkan tadi bakal ada yang nyata suatu hari nanti. Atau bahkan semuanya? Waaahhh. Amin aja deh. Saya gak punya jiwa bisnis sebenernya. Jadi pengusaha pun kayaknya udah zone nya suami saya bukan saya. Tapi kita gak pernah tahu apa rencana Tuhan. Sometime, saya hidup dari hasil pemikiran the secret sih. Jadi pernyataan saya tadi gak nutup kemungkinan bisa berhasil saya raih. Jalan yang akan Tuhan berikan kadang gak realistis. Tapi memang begitulah cara Dia memberi yang terbaik buat kita :)

Nice dream ...

Rabu, 04 Juli 2012

Pamer sama dengan pencitraan nggak sih?

Dewasa ini (bok, bahasanya kayak soal cerita di buku pelajaran SD) saya sudah jadi Nyonya. Oke. Maaf. Ini sama sekali bukan pencitraan atau pengumuman. Untuk sebagian teman-teman saya. Ini sudah bukan rahasia umum lagi. Tapi tulisan saya kali ini emang ada hubungannya sedikit dengan syukuran di awal bulan depan kemarin. Kenapa saya bilang syukuran? Karna saya nggak mau nganggep ini pesta. Ini hanya sebuah loyalitas terhadap tradisi dan kebudayaan semata. Menurut saya sih gitu. Bodo amat orang lain mikirnya ini waktu yang tepat buat pamer. Not my bussiness.

For me, this resepsi is going dizzy. Kenapa? Karna saya sama pasangan saya bukan hanya sibuk mempersiapkan tetek bengek dan embel-embelnya. Tapi juga materinya. Bukan juga sibuk mikirin atau milih selera kita masing-masing. Apakah mending nuansa oranye atau nuansa ungu, itu nggak ada di kamus-persiapan-pra-resepsi saya dan pasangan. Kita hanya sibuk berfikir meminimalisir biaya yang mendingan dipake setelah acara selesai. Dan sebisa mungkin nggak nyusahin orang tua masing-masing. And it make me PROUD. Sungguh!

Karna saya bangga, saya sama pasangan saya selalu dilatih untuk berfikir dan mencari. Juga meminta (sama Tuhan) dan berdo'a. Bukan dengan pamer di status BBM, facebook, twitter bahwa pesta yang akan diselenggarakan nanti berlangsung mewah. Nope! Jajauheun kalo kata orang sunda mah. I means, sedikit curcol gitu di status ya wajar aja lah ya. Tapi maksudnya, kalo dibandingin sama beberapa peureu di recent update BBM saya, ya balik lagi ke bahasa sunda tadi. Jajauheun lah. Niat saya baik, dan pembayangan saya bukan cuma sekedar berpesta lalu malam pertama lalu bulan madu. Nooooo. Pembayangan saya lebih ke tanggung jawab. Someday kalo saya sudah jadi ibu dan saat menjadi seorang istri. Kalo bahasanya pasangan saya, kita punya peran masing-masing.

And then, kenapa para peureu-peureu itu segitu hebohnya memamerkan kekayaan calon suami mereka. Ya, mungkin mereka lupa kalau hidup itu kadang nggak mudah. Dan solusinya bukan uang atau harta. Tapi buat saya kebanggaan mereka nggak rasional. Beda hal nya kalau kekayaan itu hasil keringat, hasil dimarah-marahi konsumen, hasil disuruh ini itu sama atasan, hasil keribetan di pagi hari saat mulai bekerja. No! Sepertinya mereka nggak tahu tentang itu.

Buat saya, sayang banget hidup yang hanya sekali ini harus diisi dengan hanya memamerkan kekayaan yang judulnya juga dikasih. Seolah-olah semua itu bersifat permanen. Rasa memiliki yang begitu tinggi itu nggak akan bawa kamu kemana-mana. Toh bahkan diri kita pribadi aja milik Tuhan. Bukan milik diri kita sendiri.