Rabu, 27 Februari 2013

Menjadi Penulis Lepas



Hhhhhh ... Siapa bilang nulis itu gampang, mudah dan gak keren? Banyak sih yang bilang. Dan yang bilang itu orang-orang yang tidak mengerti bagaimana menjadi seorang penulis. Atau bagaimana teknik menulis yang baik. Apalagi orang-orang yang beranggapan bahwa hasil dari nulis itu gak akan seberapa (secara ya, zaman sekarang orang mau melakukan sesuatu karna ada hubungannya dengan duit. Di luar itu, they say NO!) Bahkan waktu saya ikut komunitas amal aja ada seorang temen yang nyangkanya saya bekerja untuk mereka. Dan bekerja di sini dalam arti, DIBAYAR. Padahal namanya beramal kan, bukan cari duit. Beramal dan bekerja, dari suku kata dan artinya aja udah beda!

Balik lagi ke menulis. Saya hobby menulis sejak kecil. Dan mulai menjadikan itu cita-cita setelah menjelang besar (sebutan pastinya ABG mungkin yah) :)) Dan sekarang setelah pure jadi Ibu rumah tangga saya mulai menjadikan menulis itu profesi. Kalau profesi, ada embel-embel uang kan? Padahal ada seorang temen saya lagi yang bilang bahwa jangan menjadikan menulis itu profesi. Suami saya pun bilang begitu. Bukan karena itu konotasinya negatif. Tapi kalau profesi, patokan kita hanya uang. Khawatir melupakan kualitas. Maksudnya begitu. Tapi karna 1 dan lain hal, saya mencoba untuk menjadikan itu profesi.

Dan saya memilih menjadi penulis lepas (berbayar). kalau dilihat dari segi uang, jelas tidak besar jumlahnya. Tapi lumayan ya bok, buat belanja online :D Lalu dari banyak situs yang saya lihat di internet tentang penulis lepas yang dibayar sedikit tidak sedikit orang yang tidak terima karena bayarannya kecil. Katanya seolah tidak menghargai penulis. Dan menulis itu kan hasil pemikiran yang tidak mudah. Bukan berarti saya setuju dengan bayaran kecil. tapi menurut saya, jika ingin mendapat penghasilan yang besar dan ternyata dari menulis itu kecil ya kenapa gak coba cari yang penghasilannya besar. 

Sederhananya begini, segala sesuatu yang kita kerjakan jika kita sukai pasti tujuan utamanya tidak akan mengarah ke uang. Karna jelas kita menyukai jenis pekerjaannya. Tapi jika tujuan utama cari uang yang banyak, ya berusahalah di pekerjaan yang memang layak mendapat bayaran tinggi dan bergengsi. Dan banyak pula yang bilang bahwa menulis itu butuh hati yang besar. Selain dari hasil kecil yang didapat, juga terhadap berbagai kritik orang mengenai tulisan kita. Saya keluar kerja lalu memutuskan untuk jadi Ibu rumah tangga agar punya banyak waktu menulis, karna memang keadaan. Saya sempat sakit cukup lama. Tapi banyak orang di luar sana yang dengan berani mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya lalu ia menjadi full time writer. Dibanding saya, mereka jauh lebih hebat. Berani mengambil dan menghadapi berbagai resiko. Tapi kan, suatu hari nanti mereka tinggal memetik hasil yang dicapai. Be a pure writer. Saya mau jadi salah satu dari mereka. Walaupun mengesampingkan tujuan materi memang agak sulit, hehe (jujur donk!). Tapi selama kita menyukai dan menikmati apa yang kita kerjakan, saya percaya itu akan mengurangi jumlah keluhan :)

Minggu, 17 Februari 2013

#LoveAction with @BFLactBandung :)

Baiklah. Senin moody ini adalah senin yang paling good feelin selama saya hidup di dunia (OK. Itu lebay) :D Tapi, senin ini adalah efek baik dari 'feelin good by doing good' moment hari Minggu kemarin :')

Tanggal 17 Feb 2013 jadi moment berharga buat kami kakak-kakak fasil yang mau dengan ikhlas jadi volunteer acara #LoveAction di Panti Asuhan Bandung. Aksi amal di bulan Febuari ini diadakan dalam rangka hari kasih sayang. Atau let say, berbagi kasih sayang dengan adik-adik di panti asuhan. Komunitas khusus area Bandung ini, terbilang mentah. Karena baru banget mau dan akan dibentuk. Tapi Alhamdulillah, dengan niat tulus kami ingin berbagi dan membantu adik-adik di panti tanpa modus terselebung apapun. Tuhan berperan serta dalam pembentukan dan persiapan aksi ini. Tak hentinya saya berterima kasih, karena Tuhan sangat merestui niat kami dan mempermudah acara ini dari awal hingga di hari-H.

Tak ada yang lebih membahagiakan lagi saat saya melihat kebahagiaan mereka menyambut kedatangan kami. Dan sumbangan yang pada awalnya minim dana serta keterbatasan sumbangan ternyata melimpah ruah menjelang hari H serta di hari H. Subhanallah sekali mereka yang dengan tulus mau menyumbang untuk adik-adik kami. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka dengan berkah yang juga luar biasa berlimpah. Amin Ya Rabb.

Dan saya juga salut double-double sama kakak-kakak volunteer yang di tengah kesibukan mereka masih mau menyempatkan diri untuk bergabung, ikut mempersiapkan, ikut menyumbang ide, ikut menyumbang banyak hal untuk adaik-adik di sana. Dan semoga kakak-kakak fasil juga diberi sehat dan bahagia oleh Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin.

Karena buat saya pribadi, yang namanya menyumbang, membantu, menolong, dan mau berpartisipasi tanpa bayaran apapun sungguh sebuah panggilan hati. Walaupun saat itu yang menyumbang dana tidak seberapa, tapi buat kami sumbangan itu jumlahnya sangat besar. Karena, (lagi-lagi) menyisihkan sebagian harta kita (walaupun sedikit) untuk amal itu biasanya disertai keengganan yang luar biasa berat untuk sebagian orang. Apalagi jika jumlah yang disumbang banyak. Itu artinya, sungguh mulia sekali hati mereka :') 

Dan saya bersyukur, saya bisa ikut berpartisipasi dalam menolong orang. Walaupun tidak banyak yang bisa saya kasih ke mereka, tapi melihat kebahagiaan mereka saja itu sungguh luar biasa buat saya bahagia. Anak-anak itu tidak pernah minta dilahirkan. Tidak pernah minta untuk dikirim ke dunia. Jadi, jika mereka dikirim Tuhan ke dunia dengan 'berbagai hal kekejaman yang ia dapat semasa hidup' , buat saya sungguh tidak adil. Saya ingat dulu pernah ada yang bilang bahwa, kebahagiaan itu hak mutlak setiap orang. Jadi, kebahagiaan itu tidak dipilih. Tapi kita memilih ;')
Dan saya berdoa, semoga Tuhan juga selalu memberi adik-adik di sana kesehatan dan kebahagiaan. Serta punya masa depan yang sesuai dengan apa yang mereka mau. Amin Ya rabbal Alamin O:)


Beberapa sumbangan sembako, makanan, mainan, buku, and all


Perpus mini yang mudah-mudahan bisa jadi perpus besar


Pembukaan acara


Lihat wajah2 innocent mereka :')


Penutupan acara


Hadiah games


Kakak-kakak fasil :')

We're going miss u all, babe ... *Big love and hugs*

Kamis, 14 Februari 2013

End of the fucking chemo treatment

Selamat siang blogger, rasanya siang ini ingin berteriaaak ... AKHIRNYAAAA!!!!

Pengobatan yang melelahkan ini berakhir juga. I'm totally free from this fucking chemo!!!
Setelah kemo ke-6 kemarin, lalu menunggu hasil lab seminggu kemudian. Akhirnya saya dibebaskan dari kemoterapi. Itupun setelah saya melewati beberapa rintangan terlebih dahulu. Kalau istilah anak SD-nya, saya sempat musuhan dulu sama Tuhan karena merasa doa saya tidak didengar (terdengar kafir ya itu kalimat) :))

Dua minggu setelah kemoterapi ke-5, HCG saya 1,83. Karena perjanjian awal dengan dokter tinggal 2 kali lagi kemotrapi, so' saya dan keluarga hanya berfikir bahwa tinggal 1 kali lagi kemoterapi setelah 1,83 ini. Tapi ternyata dokter bilang, kita lihat hasil HCG setelah ini. Kalau bisa turun sampai 0 koma sekian kemoterapi bisa dihentikan. Tapi jika belum, tambah lagi 1 kali. Dan kami sekeluarga seperti berlomba-lomba berdoa pada Tuhan agar HCG saya di angka 0 koma. Kami juga optimis dan yakin kalau setelah ini akan jadi kemo terakhir. Saya yang biasanya pesimis pun mencoba untuk optimis. Mencoba untuk yakin bahwa Tuhan sepenuhnya akan mengabulkan doa kami.

Subhanallah, di kemo ke-6 efek dari kemonya luar biasa menyakitkan. Tentunya selain mual muntah yang berkepanjangan, seluruh badan saya sakit sekali. Saya merasa (maaf) lumpuh sementara. Menggerakkan badan sedikit saja sakitnya luar biasa. Saya nggak tahu apa saya yang manja tidak bisa melawan rasa sakit, atau memang badan saya sudah sepenuhnya menolak obat-obatan itu masuk ke tubuh saya sehingga rasa sakitnya luar biasa. Saya sampai berfikir, saya bisa saja meninggal gegara efek kemoterapi itu. Seriously, akal sehat saya seolah sudah tak bisa diajak kompromi untuk bersatu melawan rasa sakit.

Setelah kemo ke-6 tersebut, saya mulai menata hidup sedikit demi sedikit. Dengan modal keyakinan dan doa bahwa saya memang tidak akan kemoterapi lagi. Saya juga mulai membuat planning-planning baru untuk kelanjutan hidup saya. Hingga saatnya tiba saya harus melihat hasil HCG. Namun betapa kecewanya saya ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Penurunan rata-rata yang biasanya 90% mendadak jadi hanya 30%. HCG saya turun, tapi hanya sedikit. Dia berhenti di angka 1,21. Tuhan! Saat itu juga saya menangis. Saya menangis dan menangis. Saya dan keluarga merasa kami sudah melakukan apa yang memang harus kami lakukan. Berdoa dan meminta pada Tuhan, dan mempercayakan semua hasilnya pada-Nya. Tapi kenapa hasilnya sungguh mengecewakan. Dan bayangan kemoterapi selanjutnya menjadi hantu yang menakutkan untuk saya.

Untuk saya pribadi, kejadian itu sangat memukul. Hati saya berontak. Otak saya menolak menatah-mentah. Dan seumur hidup, saya baru merasakan ada penolakan yang begitu hebat terhadap sesuatu. Yaitu terhadap kemoterapi ini. Jiwa dan tubuh saya sudah benar-benar tidak mau tahu akan adanya obat-obatan yang akan masuk lagi ke tubuh saya. Saya pun menolak. Tapi orang tua saya merayu saya agar mau 1 kali lagi kemoterapi. Mereka bilang perjalanan saya yang panjang ini akan sia-sia jika saya menyerah. Walaupun saya juga mati-matian mencoba untuk menerima, tapi tetap. Saya MENOLAK!

Satu hal yang pasti. Saat itu saya merasa sangat MARAH yang luar biasa pada Tuhan. Saya merasa sudah cukup apa yang saya lakukan untuk Dia tapi Dia belum juga mengabulkan permintaan saya. Saya tahu kalimat tadi terdengar tidak sopan, terdengar hina, terdengar 'memangnya saya siapa berani-beraninya marah pada Tuhan'. Tapi entahlah, saya benar-benar merasa bahwa Tuhan memang sedang menyaksikan kemarahan saya. Saya menangis sambil berkata, What do You want from me God? And I can't trust anything. Saya tetiba tidak percaya pada doa, harapan, dan pikiran optimis. Saya merasa semuanya sangat sia-sia. And my hubey just hug me and say, " Kalau kamu merasa sudah tidak kuat. Berhentilah. Toh tidak ada jaminan pasti apakah kemoterapi ini akan benar-benar bikin kamu sembuh. Dan serahkan saja semuanya sama Tuhan" Saya tidak mengerti, insting hati dan pikiran saya sangat bertolak belakang.

Hingga akhirnya, dokter bilang dengan entengnya bahwa HCG saya masih normal. Dan memang yang penting normal tidak di atas 5. Jadi, ya sudah kemoterapi ini bisa dihentikan. Alhamdulillahhhh. Ternyata Tuhan memang mendengar doa kami semua. Rasanya maluuuu sekali saya sudah berburuk sangka pada-Nya. Berulang kali saya sisipkan maaf di setiap doa saya. Dan saya percaya bahwa Tuhan Maha Pemaaf. Sayanya aja yang kurang ajar. And now, I stand up to facing everything. Saya harus siap menghadapi segala hal. Saya harus menunggu 1 tahun untuk punya anak. Dan masih kontrol HCG 2 minggu sekali. 

Terima kasih Tuhan, Engkau selalu menjadi pelindung di setiap kesulitan. Dan terima kasih semesta, sudah berkonspirasi dengan alam yang juga ikut mengabulkan doa saya. Saya masih selalu berdoa dan meminta bahwa setelah ini, kejadian-kejadian buruk kemarin tidak akan terulang. Tak ada lagi yang namanya kemoterapi, TTG, atau bolak balik rumah sakit (kecuali jika nanti saya melahirkan). Saya harap setelah ini, saya mulai menata kembali puing-puing yang kemarin sempat hilang. Dan saya akan tetap menjalani keseharian saya sebagai penulis. Thanks All, thanks for reading my story :)

Sabtu, 26 Januari 2013

I have no hair



Source : from google.com

Mengingat post blog saya yang sebelum ini, saya ingin membahas sedikit tentang rontoknya rambut saya. Memang sebenernya gak gitu penting. Siape elo kalo kepala lo botak :P
Tapi ini tentang makna kehilangan (lagi-lagi saya belajar dari sebuah kehilangan). Why? Why God must take my hair from my head? WHY?! Pada awalnya itu yang ada di pikiran saya. Sampai pada akhirnya saya membiasakan diri dengan hidup tanpa memiliki helai-helai rambut. And I do it so' well ;)

Satu per satu rambut saya berjatuhan. Setiap hari setiap detik setiap saya bergerak. Rasanya tak ada yang lebih melelahkan dari memungut rambut-rambut saya yang berjatuhan setiap hari. Mama mengumpulkan rambut-rambut yang (berhasil) kami dapat di dalam sebuah keresek. Katanya kenang-kenangan. Satu hal yang pada akhirnya buat saya takjub diikuti rasa bersyukur. Rambut saya sudah rontok banyak, bahkan tak ada jeda setiap waktunya. Tapi saat dilihat kembali, rambut saya yang sudah jatuh di dalam keresek saja jumlahnya sudah sangat banyak. Belum yang jatuh tersapu. Atau yang saya buang di kamar mandi. Belum juga yang jatuh di tempat lain. And you know what? Di kepala saya masih banyak terdapat rambut yang menempel. Walaupun sebagian pitak, dan lama-lama botak di bagian atas. Tapi sisanya masih banyak. Begitu baiknya Tuhan kasih saya rambut tebal. Padahal dulu saya sering mengeluh dengan rambut tebal saya. Karena susah banget diatur. Sedangkan teman-teman saya punya rambut yang tipis dan lurus, nggak bandel. Sedangkan saya, ditipisin ke salon aja udah tebal lagi dalam hitungan minggu.

BUT NOW, saya luar biasa bersyukur. Kalau dulu rambut saya tipis, dalam hitungan hari mungkin saya langsung botak gitu aja. Tapi dengan ketebalan rambut tersebut, rambut saya masih bisa bertahan di kepala jauh lebih lama. Sampai kemoterapi ke-6 kemarin akhirnya saya memutuskan memangkas habis rambut saya yang tersisa di kepala. Biar gak usah nunggu lama untuk rontok semua. Dan biar bakal-bakal rambut yang akan tumbuh juga cepat tumbuhnya.

And JRENG! I have no hair. When I see myself on mirrorr, saya seperti melihat orang lain. Bukan orang lain dalam arti wujud orang lain. Tapi dalam arti saya yang lain. Saya dengan pribadi yang berbeda. Sedih memang melihat kepala saya tanpa rambut, saya bahkan sering bilang pada suami saya dimohon untuk tidak ilfeel :D Tapi thank God, kepala botak saya selalu kami jadikan lelucon. He always kiss me, when I say that saya nggak PD sama saya yang sekarang. He always said, I'm beautyfull for him :')

Banyak juga yang menyarankan saya agar pakai kerudung. Akan saya bahas sedikit di sini. Mohon maaf sebelumnya saya tidak ada maksud menyinggung siapapun. Ini murni pendapat pribadi saya. For me, berkerudung itu adalah komitmen saya dengan Tuhan. Bukan hanya sekadar menutup aurat saja. Dan kenapa harus komitmen? Itu artinya saya harus mulai membiasakan diri dengan memperbaiki diri dari hal-hal kecil. Dalam hal ibadah pada Tuhan. Dengan begitu, saya nggak asal pake dengan tujuan hanya menutup aurat atau demi mengabdi pada suami. Saya tahu ada ayat dalam al-qur'an yang menjelaskan tentang menutup aurat dan pengabdian pada suami. Bukan berarti saya tidak mau mengabdi pada suami. tapi, memakai kerudung itu is just physicaly. Saya yakin Tuhan pun akan setuju bahwa hal-hal baik itu datangnya dari dalam hati kita sendiri. 

Jadi, bukan tidak mau tapi saya belum sepenuhnya siap memakai kerudung. Apalagi kalau niatnya karena ingin menutup kekurangan. Bukan karena dari hati, karena pengabdian kita pada Tuhan. Saya masih bisa pakai penutup kepala/wig or whatever like that. So I change my style of it :D

Jadi, simple saja. Bahwa segala hal yang kita punya di dunia ini bahkan sehelai rambut pun. Itu bukan milik kita. Itu sepenuhnya milik Sang Pencipta. Dan Dia bisa mengambilnya kapan saja. Jika saya selalu menerapkan cara hidup berke-Tuhan-an, pada akhirnya saya siap dengan keadaan tak punya rambut. Dan saya sedikit demi sedikit mulai menerima keadaan ini. Saya percaya, Tuhan akan kasih apa yang saya pesan dalam do'a di saat yang sangat tepat. Dan jika tidak, Ia akan mengganti dengan yang lebih baik.

For a such thing, I gratefull much to God. For everythings, what God gave me ;)

Jumat, 18 Januari 2013

Hujan pun ada masanya reda

Baiklah, setelah sekian lama saya menghilang dari blog ini lalu saya jadi buronan gegara jarang nulis (bohong denk!) :D saya pun akhirnya mau menulis lagi. Mudah-mudahan tak ada yang bosan membaca kisah penyakit saya. Hope, it'll be an inspirational story for everyone. Siapapun. Yeah, hope :)

Saya akan mulai dari cerita terakhir saya tentang penggantian renjimen (bahasanya dokter) kemoterapi dari MTX ke EMACO. Setelah kemoterapi ke-3 yaitu EMACO pertama, HCG saya kembali turun drastis. Dari 1000 menginjak ke angka 100. And it's great. Bahagia sekali rasanya. Walaupun membayangkan efek-efek dramatis yang harus saya lalui setiap sehabis kemoterapi. And thank God, saya pernah bilang bahwa kelak air mata saya akan berharga. Akan ada pelangi setelah hujan turun. Dan judul blog saya ini bukan tentang hujan sebenarnya (terlepas dari bencana banjir yang sedang melanda Ibukota) :( tapi ini murni tentang cerita penyakit saya.

Setelah kemoterapi ke-4 akhirnya dokter kasih saya waktu 2 minggu. Karena tadinya dokter kasih saya waktu 1 minggu. Ternyata pemulihannya kurang, sampai saya sempat harus tranfusi darah 1 labu gara-gara HB saya turun. Penyebabnya muntah-muntah yang sering itu. Melihat penurunan HCG yang bagus dokter pun kasih waktu jeda 2 minggu. Alhamdulilah. Buat saya itu salah satu mukjizat dari Tuhan. God is always hear my pray. I love it. Dan dalam jangka waktu 2 minggu itu benar-benar saya manfaatkan waktunya untuk pemulihan dengan makan yang banyak. Dan penaikan berat badan lagi. Gak susah emang kalo naikin berat badan berhubung saya suka sekali makan (Damn! Konotasi suka sekali makan ini maksudnya rakus ya) :D

Setelah kemoterapi ke-4. HCG saya turun kembali menjadi 6. Tuhan! Yang saya tahu, angka negativ target saya dengan dokter itu adalah di bawah 5. Dan angka 6 ini angka yang nanggung sekali. Jika saya sudah mencapai angka di bawah 5, sudah terprediksi kemoterapi saya tinggal 2 kali. Saya jelaskan sedikit kenapa harus ada penambahan 2 kali setelah kita mencapai angka negativ. Dokter bilang, agar penyakit saya tidak muncul kembali. Dan agar sel-sel yang berencana untuk tumbuh tidak jadi tumbuh. Baiklah, kalau tujuannya baik saya ikuti. Dan waktu melihat angka 6 di HCG saya, sebenarnya saya sangat bersyukur. Bersyukur karena turun, tidak naik atau tetap. Hanya tanggung saja. Tapi tak apa, saya sudah bahagia. Saya bilang pada orang tua saya, sebenarnya membayangkan harus kemoterapi 2 kali lagi saja pembayangannya sudah cukup berat. Apalagi masih 3 kali. Dan sayup-sayup saya dengar mereka bilang bahwa sebenarnya mereka pun tak tega melihat saya kemoterapi. And I'm craying alone. Saya semakin bertekad untuk harus sembuh dan kuat menjalani efek-efek kemonya demi mereka. Juga demia suami saya.

Alhamdulillah. Saat kontrol ke dokter, dokter bilang hasilnya bagus. Walau saya bilang angkanya nanggung. Ternyata! Ada lagi keajaiban dari Tuhan. Dokter bilang, HCG saya sudah normal. Dan kemoterapi saya tinggal 2 kali lagi. Saya sampai berteriak kegirangan. Sampai harus make sure berkali-kali pada dokter bahwa kemoterapi saya benar-benar tinggal 2 kali. Saya pun bertanya, kenapa sudah dinyatakan normal sedangkan setahu saya angka normal itu di bawah 5. Tapi dokter bilang, sebenarnya di bawah 10 juga itu sudah terbilang normal. Memang sih tiap dokter tindakannya beda-beda. Yang saya tahu, dokter lain tetap harus di bawah 5 untuk mencapai batas normal. But I beleive in the doctor. Dan saya percaya pada Tuhan. Apapun rencana baik yang sudah Ia rencanakan untuk saya, saya percaya itu baik juga untuk hidup saya. 

Kemoterapi ke-5. Rasanya jauhhhh lebih sulit dari sebelumnya. Bahkan pemulihan di rumah saja sampai 3 hari. Padahal biasanya 2 hari cukup. Di hari ke-3 saya sudah bisa makan sedikit-sedikit. Tapi kemarin itu, saya baru bisa makan di hari ke-4. Dan agak banyak keluhan di badan saya. Di bagian sana sini sakit sekali. Tapi di hari ke-4, masa-masa kritis saya sudah lewat. Dan segalanya lancar kembali. Alhamdulilah.

Rasanya kaya mimpi. Sedikit demi sedikit segalanya mulai mencapai batas normal. Oh, ya. Saya lupa cerita. Di kemoterapi yang ke-4. Rambut saya mulai rontok. Saya sempat menangis histeris melihat rambut saya rontok begitu banyak. Tapi keluarga saya selalu support. Mereka gak khawatir saya jadi botak selama bisa tumbuh lagi. Dan mereka tidak terlihat malu melihat saya botak. Pada akhirnya saya belajar meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya hanya belum terbiasa dengan mulai berjatuhannya rambut saya satu per satu. Banyak yang menyarankan saya pakai kerudung. Tapi tidak :) saya tidak mau menjadikan kekurangan sebagai alasan pakai kerudung. Dan jika setelah botak pun saya pakai kerudung, itu karna memang saya sudah mau dan siap. Bukan karna saya sedang tak punya rambut.

Hari ini, saya baru cek lab setelah kemoterapi ke-5. Dan alhamdulilah, HCG saya kembali turun. Sekarang di angka 1. Alhamdulilah. Mudah-mudahan kebaikan-kebaikan akan mulai berdatangan setelah ini. Sekali lagi saya tekankan. Hujan pun ada redanya, tidak akan selalu turun. Dan ada masanya pelangi turun ke bumi ;) Tujuan saya sekarang adalah selalu SEHAT. Dan bisa membahagiakan orang tua, suami, dan keluarga saya. For me, it's more than enough to be happy :)

Selasa, 25 Desember 2012

Why you so' obsessed with me?


Judul blog saya ini ngopi dari judul lagunya Mariah Carey. Tapi ini bukan tentang obsesi pada seorang lawan jenis. Saya pengen bahas tentang obsesi pada sesuatu. Simple aja sih. Tulisan ini dibuat gegara saya sering memperhatikan gaya hidup orang-orang yang sudah atau bahkan mulai berubah setelah mencapai obsesinya. Kenapa saya bilang obsesi? Bukan tujuan atau bahkan cita-cita? Cause for me, kalau yang dikejar materi namanya bukan cita-cita men! (Damn why I used this word? 'men') :|

Begini, sederhananya. Jika ada yang bertanya apa cita-cita kita, harusnya sih berhubungan sama passion. Judulnya aja cita-cita. Tapi zaman sekarang, cita-cita atau tujuan itu ukurannya materi. Lagi-lagi materi. Dan obsesi yang saya maksud di sini pun, itu jatohnya materi. Bukan lagi passion. I means, ya gak munafik ya bok. Saya juga butuh uang, cari uang buat hidup, dan pengen hidup enak. But for me, itu bukan tujuan saya atau faktor utama kenapa saya cari duit. Hidup enak dan uang banyak itu bonus. Hidup itu kayak main game men! Saat kita melakukan sesuatu lalu menang, kita dapet hadiah. Bukan karena pengen dapet hadiah lalu baru kita melakukan sesuatu. Tapi kayaknya orang-orang zaman sekarang melakukan option ke-2. Melakukan sesuatu karena pengen hadiah.

Saya melihat dan memperhatikan gaya-gaya hidup beberapa teman. Yang saya tahu historynya kayak apa dari awal. Intinya, karena dari beberapa mereka capek diremehkan orang-orang karena keadaan ekonomi. Dan karena mereka gak mau melulu hidup susah. Lalu muncullah obsesi tersebut. Sebenernya sih gak masalah selama obsesi wajar, tapi jika sudah menyimpang itu yang salah. Bahkan bukan tidak boleh kita menjadi orang yang berada, tapi intinya manfaat dari uang/materi yang kita punya. Dan maaf kata, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka mau (even itu memang hasil usaha keras mereka) menurut saya cara berfikir dan cara hidupnya mulai menyimpang. Dimulai dari obsesi tadi.

Yang saya gak setuju, adalah gaya hidup sosialita mereka. Mulai nggak keren kalo gak nongkrong di cafe, mulai gak merasa cantik kalo gak perawatan ke salon, mulai gak PD kalo gak bawa gadget mahal, mulai ngerasa malu kalo liburan/honeymoonnya gak ke luar negeri. Semuanya harus bergengsi. Dan hal-hal sepele kayak gitu. Sepele? Iya lah. Means, emang kenapa kalo hal-hal yang saya sebutkan tadi gak dilakuin? Saya nggak tahu dan nggak ngerti juga sih ya, apa itu karena mereka nggak mau diremehkan lagi sama orang-orang. Tapi menurut saya sih, itu tetap bukan alasan. Sama sekali. Saya sih nggak menyalahkan ya. Itu hak mereka. But for me, obsesi itu bisa jadi gak bagus kalo niatnya juga nggak bagus.

Sama halnya dengan niat ingin membahagiakan orang tua. Banyak anak-anak yang ingin bahagiain orang tua dengan menjadi sukses. Itu bagus. Atau pengen beliin mereka ini itu. Itung-itung balas budi walaupun kita gak akan pernah bisa membalas budi baik mereka sebanyak yang mereka kasih. Itu juga bagus sih, tapi kita kadang lupa. Apakah bahagia itu ukurannya hanya materi? Dan apakah dengan kita ngasih ini itu sama mereka, cara kita hanya menjadi cukup? Cukup bahagia. Nggak. Karena kita nggak bisa mengukur kebahagiaan seseorang. Apalagi kalo ukurannya hanya sebatas materi. Kan katanya kan bahagia itu sederhana.

Maksud saya, saat kita sudah mendapatkan apa-apa saja yang kita inginkan termasuk limpahan materi bukan berarti segala hal yang tadinya ada di diri kita (I means yang positif) jadi nggak ada di diri kita. Bahkan jadi berubah. Jadi serasa nggak afdol gitu kalo kita nggak termasuk di salah satu kaum sosialita tersebut. Kasian sih sama orang-orang yang kayak gitu. Yang buat mereka, materi jadi satu-satunya wahana untuk jadi bahagia. Dear, saya sedang menjalani pengobatan. Butuh mental kuat dan banyak untuk menghadapi penyakitnya sendiri, pengobatannya, biayanya, and all. Tapi tanpa itu semua saya tetap merasa saya bahagia. You know what? Semenjak sakit, bahkan saya nggak bisa jalan-jalan atau liburan ke mana-mana. Saya nggak bisa creambathan lagi ke salon kayak dulu, saya nggak bisa belanja ini itu atau bahkan sekadar mempercantik diri. Tahukah kamu bahwa saya hanya mengejar SEHAT. Kehidupan di dunia ini kecil sekali. Sehat dan selalu diberkahi Tuhan. Itu tujuan saya sekarang. Dan intinya, saya tetep bahagia :)

Kamis, 20 Desember 2012

Tuhan, saya mau sukses


Wait a minute. Ini saya nggak lagi keselek pidatonya Mario Teguh kan? Muehehehe. Kenapa hari ini saya bahas tentang sukses di blog saya yang fana ini (eh, ini apa sih kenapa jadi bait lagu). Alasannya sederhana. Saya baru saja mendengar sound cloud Dedy Corbuzier di internet. And I found the inspiration to write this. Tiba-tiba saya juga ingin tahu apa itu sukses. Kalau yang saya tangkep di masyarakat, sukses itu banyak uang, bekerja di Bank, bekerja di bagian pemerintahan, menjadi direktur, menjadi boss. And all. Dari gambar yang saya dapat di atas, saya merasa bahwa sukses itu bukan tentang wujud. Tapi tentang cara berfikir dan cara hidup. Eh, ketinggian gak sih pembahasannya? Agak dikurangin ya :D

Intinya, buat saya sukses dalam hidup itu adalah tahu bagaimana caranya bahagia tanpa harus mengejar materi, kedudukan, atau pekerjaan bergengsi. Dan sukses itu berhubungan dengan passion. You know that my passion is writing. Saya akan selalu menulis. Dimana pun. Kapan pun saya mau. 

Dulu, saya berfikir bahwa saya butuh pengakuan dari dunia. Pengakuan apa? Pengakuan dari dunia bahwa saya penulis dan bisa menulis. Tapi Suami saya mengajarkan, bahwa saat saya mencintai suatu bidang pengakuan tidak lah penting. Jadi atau tidak jadinya penulis, saya harus tetap menulis. Karena saya mencintai. Bukan sekadar ingin menjadi. Pada akhirnya saya berfikir, saya akan selalu menulis. Walaupun ternyata nanti tulisan saya terkenal tapi di usia tua saya. Lho, why not?

Dengan menulis saya selalu merasa pintar. Saya merasa sedang jalan-jalan tanpa bergerak. Dan saya menulis karena saya ingin berbagi. Bukan hanya pengalaman tapi juga pelajaran. Perlu diketahui bahwa tulisan-tulisan saya yang berbentuk novel sudah ditolak berkali-kali. Saya lupa tepatnya berapa kali. Sampai saya hampir menyerah dan berfikir bahwa tulisan saya tidak akan pernah diterbitkan. Tapi setelah mendengar sound cloud tadi, saya berfikir saya hanya belum selesai mencoba. Kalau pun sampai mati tidak diterbitkan, ya TERUS KENAPA? :D

So' saya akan selalu menulis selama saya bisa dan saya mau. Kalau nggak nulis, jiwa saya kayak berkeliaran di tempat. Kayak pengen gerak tapi gak bisa kemana-mana. So' I'll write everything. Semua yang otak saya suruh. Semua yang mata saya lihat. Dan semua yang hati saya rasakan. Impian saya, saya menjadi penulis yang dikenal orang. Tapi itu bukan tujuan. Tujuan saya, ya tetap menulis dalam media apapun. So' saya nggak harus jadi pegawai Bank atau pegawai negeri dulu kan ya untuk menjadi sukses? Pekerjaan kan bukan ukuran sukses tidaknya seseorang. Karena di atas langit masih ada langit :)