Sabtu, 17 November 2012

Seandainya ...


Tiba-tiba, malam ini pengen bicara. Entah sama siapa. Tiba-tiba terlintas gitu aja pikiran ini. Ya udah sih mending nulis aja. Bukankah menulis juga bicara? Tapi lewat tulisan. Dan berharap masih ada yang mau membaca untuk mendengar. Tapi nggak juga gak apa-apa (nah, kan sensitiv amat kayak handphone touchscreen) :D

Saya berfikir, seandainya saya jadi hamil. Dan gak terkena hamil anggur, lalu nggak harus menjalani kemoterapi. Mungkin sekarang perut saya sudah mulai membesar. Ada bayi yang mulai gerak di perut saya. Dan mungkin sekarang saya lagi syukuran 4 bulanan. OMG writing this, make me wanna cry for a while. 
Waktu saya hamil, teman-teman sebaya saya juga sedang hamil. Hanya beda beberapa bulan. Waktu itu saya senang karena kita sedang sama-sama hamil. Membayangkan betapa bahagianya kami akan menimang seorang bayi. Apalagi rata-rata sama kayak saya. Anak pertama. Tapi sekarang setelah saya gak jadi hamil, saya malah sedih. Rasanya gak sanggup liat mereka saling memperlihatkan foto anak-anak mereka di BB atau di facebook. Sorry to say but, I'm not jealouse. But, saya merasa. Di saat mereka sedang bahagia punya anak, saya malah harus menjalani proses kemoterapi yang panjang ini. 

God, sorry for this thing! Saya gak salahin siapa-siapa. Karena saya juga yang bilang kalo ini kehendak Tuhan. Itu alasan yang paling masuk akal buat saya. Dan yang paling bikin saya merasa nyaman mendengar alasan itu. Gak tahu gimana harus jelasinnya. Saya nggak sanggup bayanginnya kalo suatu hari nanti saya melihat kebahagiaan teman-teman saya. Saya cuma merasa, saya sedang tidak seberuntung mereka.

Bukannya saya juga menyesali kejadian ini. Nope! Sama sekali nggak. Saya cuma berandai-andai sebentar. Seandainya saya gak harus sakit. Seandainya saat itu saya beneran akan punya baby. Tapi ya gimana lagi, saya yang harus berdamai dengan kenyataan. Bukan malah mengutuk keadaan. Jatohnya malah dosa kalo saya seolah naif. Malam ini saya cuma sedih. Bukan sedih karena moment-punya-anak saya harus ditunda, tapi mungkin karena saya belum ikhlas harus sakit. Harus kemoterapi, harus menjalani proses yang panjang. OMG! Damn I wanna crying here. But, NO! My tears don't fall here.

Dear God, sorry for everything I say tonite. Sorry for this sad moment. I don't mean, seriously. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya sudah kuat. Menghadapi kenyataan kehilangan anak pertama saya, dan harus sabar menjalani segenap perawatan kemoterapi ini. Saya mau sembuh secepatnya, Tuhan ...
Saya mau ada bayi yang hidup sehat di rahim saya. Ada bayi yang akhirnya bisa lahir dengan sempurna dan sehat dari rahim saya. Mudah-mudahan ya ...

Jumat, 16 November 2012

My passion on writing


Source : Google.com

Dulu, saya masih inget banget waktu saya masih beraktifitas bekerja di kantor, keinginan terpendam saya yang saat itu belum berani saya lakukan adalah diam di rumah. Bangun tidur setelah menyiapkan tetek bengek kebutuhan suami sebelum ia pergi kerja saya akan menulis. Menulis apapun. Dan akan saya jadikan hal itu profesi. Pekerjaan saya sehari-hari setelah mengurus rumah tangga. Saya tidak berfikir bahwa apa yang saya kerjakan itu apakah menghasilkan uang atau tidak. Apakah saya mengeruk keuntungan dengan menulis untuk media cetak or something like that. Nope!

Yang saya bayangkan saat itu hanyalah feel dari menulis itu. Duduk di depan laptop dan jalan-jalan di internet. I'll do everything I want. Dan akan ada secangkir kopi panas yang menemani saya (walaupun saya gak gitu suka ngopi, tapi bok biar gaya aja kayak penulis-penulis yang suka nulis sambil ngopi). Muahahahahaha *laugh for me please*.

Atau ditambah rokok yang menghasilkan asap yang mengepul manja dari mulut saya. Tapi bagian yang itu gak saya pilih. Bok, gue udah jadi calon emak-emak. Laki gue bisa marah-manja-grop kalo liat saya merokok. Ya udah sih gak harus gaya juga kalau mau nulis ya :D

Tanpa saya sadari, ternyata apa yang saya inginkan saat itu tercapai juga sekarang. Sebenarnya ini tidak terencana sama sekali. Berhubung saya sakit, harus bedrest dan harus menjalani berbagai perawatan dan pengobatan mengharuskan saya ada di rumah. Melupakan sejenak rutinitas bekerja. Dan untuk menghilangkan bosan, saya pun menulis. Hampir setiap hari saya menulis atau nongkrong di depan laptop. Menulis apapun. Minimal ada yang saya tulis. Dan ternyatahhhh, mendisiplinkan menulis di depan laptop lalu mencari berbagai sumber dari buku, internet, atau bahkan kehidupan sehari-hari itu pekerjaan yang tidak mudah. Sangat gak gampang. Keliatannya aja enak ya bok, liat penulis-penulis terkenal yang menulis di rumah dengan masih bisa mengurus anak. Padahal, nggak semudah itu. Saya yakin, mereka juga melewati proses yang panjang untuk bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Yang enak dibaca. Yang bukunya bisa dicari oleh ribuan penggemar. Yang belum launching aja pre-ordernya udah gak ketampung.

Pada awalnya, saya juga menginginkan yang seperti itu. Wajar donk ya. Tapi lama-lama saya pikir bahwa saya akan menulis sampai mati (maaf jika terdengar lebay abaikan saja) :D
Saya akan menulis selama jiwa saya tidak mati. Dan saya menulis buat saya, selain buat dibaca orang lain. Tapi buat memberi makan jiwa saya. Ingat yang suami saya bilang, bahwa menulislah untuk diri kamu sendiri bukan untuk pengakuan atau sebatas pencitraan.

So' mudah-mudahan dengan banyaknya waktu yang saya punya sekarang, bisa melatih otak saya untuk disiplin dengan menulis ya. Hopefully. Dan bisa menambah otak saya asupan wawasan yang masih banyak tidak saya tahu. for it, thanksfull to internet ;)

Rabu, 14 November 2012

Sedetik yang lalu pun masa lalu

Jika ada yang berkoar tentang masa depan cerah, demi masa depan, atau untuk masa depan kadang saya malah ingin tahu apa itu masa depan. Lalu seperti apa masa lalu? Buat saya, bahkan satu detik yang lalu pun judulnya adalah masa lalu. Detik yang sudah berlalu. Dan detik yang tidak bisa kita minta kembali. Dan masa depan sebagus apapun akan menjadi masa lalu belaka. Saya ngga tahu apa perbedaannya dengan masa depan. Yang orang bayangkan, masa depan itu adalah bayangan tentang hidup yang jauh lebih baik. Jika tidak lebih baik, apakah judulnya bukan masa depan?

Pernahkah kamu merasa, kamu bersyukur sudah melewati masa lalu. Melewati masa-masa yang begitu sulit. Masa-masa yang bahkan tidak pernah mau kamu lihat atau longok lagi. Saya juga pernah. Di masa-masa pacaran dengan pasangan hidup saya, banyak yang kami lewati. Berjuang dan menangis seperti punya sekat tipis. Saya bersyukur, kami sudah melewati masa-masa itu bahkan tersenyum puas ternyata kami berdua mampu melewatinya. Bukan saja kami bisa belajar banyak di masa itu, tapi juga kami sadar bahwa ternyata kami kuat karena pernah ada di masa-masa sulit.

Tapi tak ada yang tahu bahwa terkadang saya malah kangen. Kangen pada masa-masa sulit di hidup saya. Entah 10 tahun yang lalu, 5 tahun yang lalu, atau saat saya dan pasangan saya sedang berjuang. Entah yang mana. Tapi jika ada hal yang mengingatkan saya akan masa lalu, entah kenapa saya kangen sekali. Percaya tidak percaya, ternyata memang saya bisa melewatinya. Bagaimana saya berusaha menyemangati diri sendiri dan menekankan bahwa sama seperti lagu, badai juga pasti berlalu. Bagaimana saya tidak bosannya menangis karena merasa paling sengsara. Tapi Tuhan jauh lebih mengerti. Saat saya protes, Tuhan justru semakin senang menguji saya. Hingga sampai di titik kuat itu muncul. Kuat itu seperti ampas dari penderitaan saya sendiri.

Jadi sekarang pun, saat saya sedang menjalani proses penyembuhan yang panjang saya tahu di masa depan nanti saya akan kangen pada masa-masa ini. Bukan kangen lalu ingin kembali sakit. Tapi kangen pada prosesnya. Pada masa-masa suami saya begitu perhatiannya mengurusi saya. Tanpa MENGELUH. Waktu di rumah sakit, saya sempat ngobrol dengan seorang Ibu. Dan dia bilang, di awal rumah tangga seperti ini justru saya harus bersuyukur Tuhan menunjukkan pada saya bahwa saya tidak salah pilih suami. Suami saya juga diuji. Saat rumah tangga kami belum genap setahun, ia sudah harus mengurusi istrinya yang sakit. Tapi ia bahkan menerimanya dengan ikhlas.

Rencana Tuhan selalu tidak dapat diragukan lagi :)

Jika boleh saya buka di sini, saya ingin bilang saya kangen pada masa-masa kuliah saya. Saat berkali-kali saya harus bertemu dengan pria tidak baik (kasarnya brengsek bok!) :D
Saat saya sedih dan menangisi masalah, ada teman-teman saya yang selalu mengerti. Yang selalu memberi semangat. Kami bisa menghabiskan waktu seharian di foocourt BEC sampai sore atau malam. Bahkan sampai bolos kuliah. Selain foodcourt, kami juga biasa mencari tempat makan yang enak dan murah sesuai dengan uang mahasiswa. Tidak banyak yang kami lakukan sebenarnya. Hanya makan, minum, dan cerita kegalauan masing-masing (how much I have to laugh for it) =))))

Tapi semuanya indah. Saat sedang dikenang seperti sekarang. Makanya, jangan mengutuk hidup yang sedang kita jalani sekarang. Walaupun itu menyedihkan. Karena suatu saat, saya yakin. Kita akan mengangeni masa-masa itu. Dan kita tahu, bahwa ternyata kenangan itu mahal. Kita tak bisa kembali ke sana. Tak bisa membeli kenangan itu dengan apapun sekangen apapun kita pada kenangan itu :')

Jumat, 09 November 2012

What a hamil anggur means to be

Jadi, dimohon untuk tidak bosan membaca berita-berita tentang what-so-ever-this-hamil-anggur yang sering sekali saya bahas semenjak saya sakit pasca kuretase. Tapi, bahkan saya pun bosan sebenarnya membeberkan tentang apa sih hamil anggur itu. Dan kenapa pula harus ada acara kemoterapi segala. Papa saya sampai menyarankan biar saya tulis di PC lalu di print dan di copy sebanyak-banyaknya untuk disebar pada orang-orang yang menengok biar mereka membaca sendiri apa itu hamil anggur (Oke. Ini cuma joke bapak-bapak yang harus diabaikan. Trims) *tersenyum simple*. 

Jadi, setahu saya (boleh diumumkan saya jadi rajin browsing google tentang what-the-hamil-anggur-ever), hamil anggur itu adalah gagal berkembangnya bakal janin menjadi calon bayi. Bayi tersebut gagal berkembang menjadi bakal janin dan malahan membentuk gumpalan-gumpalan darah yang menyerupai anggur. Kegagalan berkembang tersebut berubah menjadi tumor jinak (saya gak gitu ngerti istilah ilmiahnya jadi kita bahas secara Indonesian language aja ya). Dan itulah yang terjadi pada saya kemarin. Otomatis, harus ada tindakan kuretase. Setelah tindakan itu, saya cuma istirahat di rumah selama 3 hari. Hari ke-4 langsung kerja dan beraktivitas seperti biasa. Di hari ke 3 itu saya mengalami pendarahan yang saya kira itu mentruasi. Dan di hari ke-3 saya pendarahan, ternyata jumlahnya melebihi biasanya. Saya masih berfikir itu menstruasi. Baru sampai di hari ke-4 saya mengalami pendarahan hebat sampai dibawa ke rumah sakit dan dirawat selama 2 hari. Hasil patology anatomi (hasil kuretase) itu menunjukkan hasil tumor jinak. Dan kadar HCG (kadar hormon kehamilan) saya turun dari 700ribu sekian jadi 26ribu. Saya sempat mengucap syukur tumor ini tidak mengarah ke ganas.

Tapi pulang dari rumah sakit, pendarahan saya kembali hebat sampai saya dibawa ke alternatif. Dan yang mengagetkan, hasil tes HCG saya jadi naik bukan turun sebagaima yang diharapkan. Dokter menyarankan saya kembali lagi ke rumah sakit negri ke dokter yang menangani tindakan kuretase saya. Dengan naiknya kadar HCG, diindikasikan itu sudah mengarah ke ganas dan harus kemoterapi. Saat mendengar kata kemoterapi tersebut saya sempat menangis dan stress sendiri. Cause I don't even know what kemoterapi it is like I don't know what hamil anggur means to be. Yang saya tahu, kemoterapi itu pengobatan untuk penyakit kanker dengan sederet efek seperti mual, muntah, gatal-gatal, rontok dan sariawan. Dan dengan biaya yang sangat mahal.

Tapi dokter menekankan bahwa ini kemoterapi ringan dengan efek yang hampir sama. Tapi dengan biaya yang relatif rendah. Ini juga kemoterapi dengan dosis yang paling ringan. Namun program otak saya tetap berfikir kemoterapi yang saya tahu dari sinetron-sinetron. Saya benar-benar tak bisa membayangkan bahwa nanti suatu hari rambut saya rontok, atau saya botak. Oh, how much it's terrible ever!!! Tapi Tuhan berkata lain, saat baru memasuki ruangan kamar, Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan berkerudung bernama Pipit. Dan ternyata penyakit kami sama. Dia juga sedang akan menjalani kemoterapi session ke-7. Akhirnya dia menjelaskan bahwa kemoterapi yang dimaksud tidak separah apa yang saya bayangkan. Waktu suntik MTX pertama, dia tidak merasakan mual muntah dan efek-efek lainnya. Asalkan badan kita sehat dan disuply dengan banyak makanan sehat.

Saya menuruti nasihat-nasihat dia dengan banyak makan, banyak minum air putih, bahkan memakan habis sayur dari makanan rumah sakit walaupun rasanya OMG!! Tapi karna saya mau sembuh dan mau sehat terpaksa saya makan. Bahkan, Teh Pipit bisa melakukan aktivitasnya sebagaimana biasanya karena tidak ada riwayat pendarahan seperti saya.. Sedangkan saya memang harus bedrest total untuk mencegah si pendarahan kembali datang. Saya salut sama semangat dia. Walaupun dia mengakui  bahwa yang namanya orang sakit tetap ada moment dimana up tapi lalu down. Apalagi ini sudah kemoterapi ke-7. Kebayang-bosennya-2-minggu-sekali-harus-nginep-di-rumah-sakit-selama-4-hari-pulak!! Dan dosis kemoterapi dia sudah meningkat jadi ME dengan memasukan obatnya ke dalam infusan. Karena kuantitas penurunan HCG-nya kurang signifikan.

Saya menjalani kemoterapi tersebut dengan tenang. PADA AKHIRNYA! Karena alhamdulilah wasyukurillah badan saya nggak protes. Dan tidak ada efek yang aneh-aneh. Selama di rumah sakit saya cuma disuntik tanpa diinfus. Bahkan jarang diperiksa suster atau dokter jaga karena badan saya yang sehat. Pulang ke rumah saya kembali bedrest selama kurang lebih 2 minggu. Sempat ada pendarahan sedikit dan tidak hebat. Dua hari sebelum kontrol ke dokter, saya test lab lagi. Untuk cek kadar HCG saya. Saya sempet stress karena takut dengan hasil HCG tersebut. Teh Pipit bilang, ada beberapa orang yang kena penyakit ini, sel yang ada ditubuhnya bandel jadi kadar HCG-nya malah naik atau tetap. Tapi ada juga yang sensitif jadi bisa turun atau bahkan turun banyak. Jadi saya nggak tahu sel yang ada ditubuh saya bandel atau sensitif. Yang ada dipikiran saya, walau turunnya hanya beberapa puluh ribu gak apa-apa. Saya bersyukur. Tapi setelah melihat hasil lab, YASSALAM. Tuhan benar-benar bersama saya. Dari 30000 sekian turun jadi 796. Bukan lagi puluhan ribu seperti bayangan saya. Tapi ratusan!!! Saya sampai ingin menangis terharu. God is really great. Ini berkat doa kita semua. Papa bilang, jika orang-orang yang berdoa doanya dikumpulkan jadi 1 akan menjadi 1 kekuatan yang utuh untuk dikabulkannya doa tersebut. Nice opinion Dad :)

Kontrol ke-2 tanggal 5 November 2012. Dokter happy when see my quantity HCG. Dia bilang responnya bagus. Saat test USG, dokter juga bilang rahim saya mulai membaik. Pendarahan yang datangnya kadang-kadang dengan jumlah yang sangat sedikit ciri-cirinya. Alhamdulilah. Sehabis kontrol saya langsung kemoterapi ke-2. Selama di rumah sakit dokter selalu memperlihatkan wajah happy karena kondisi saya mulai membaik. Dan dengan mendapat penyakit ini, saya jadi tahu bahwa kemoterapi itu dosisnya beda-beda, dan bukan hanya untuk penyakit kanker saja. Tapi tujuannya sama, untuk membunuh/mencegah sel-sel kanker. Waktu saya kemoterapi kedua, ada beberapa pasien yang juga sedang menjalani kemoterapi. Tapi sekali lagi bukan karena penyakit kanker. Hampir sama dengan saya, ada indikasi mengarah ke sana jika tidak dikemoterapi. Tapi mungkin karena dosis mereka lebih tinggi dari saya, jadi efeknya lebih berasa. Mual, muntah, rambut rontok. Tapi ada juga seorang Ibu yang menjalani kemoterapi yang dosisnya hampir sama dengan pasien-pasien di sana tapi tidak mengalami gejala apapun sama seperti saya.

Sorry for my reader, kalo pembahasan saya di blog beberapa kali ini selalu tentang penyakit saya. Bukan ingin mengharap belas kasihan. Tapi saya cuma mau berbagi. Bahkan saya senang jika ada yang sedang mengalami, lalu membaca blog saya ini. Agar dia juga jangan takut. Saya tidak pernah bosan untuk browsing di internet tentang penyakit ini. Sebanyak-banyaknya saya ingin tahu tentang penyembuhan atau prosesnya. Sampe saya mikir, apa gue jadi dokter kandungan aja gitu? Secara ilmu gue udah kaya sama penyakit yang dinamai Tumor Trofoblas Gestasional atau TTG ini (sorry kalo ilmiahnya sama). Eh, by the way. Gak sadar umur apa gue pengen jadi dokter :D

So' reader, saya minta doanya aja ya. Sekali lagi saya nggak minta belas kasihan atau simpatynya. Dan biar siapapun yang membaca walau tidak mengalami (jangan sampe ya :) ) , tetap tahu apa itu hamil anggur. Dan kenapa bisa ada kemoterapi segala. Walaupun sebenarnya, penyakit saya ini terbilang langka karena perbandingannya 1:1000 . Tapi dengan kesembuhan 90-100%. Mudah-mudahan saya nggak kehabisan stock sabar selama menjalani proses penyembuhan ini. Amin Ya Rabal Alamin O:)


Selasa, 23 Oktober 2012

Day One sebelum kemoterapi



Ternyata perjalanan saya setelah proses kuretase kemarin masih panjang. Mari kita berbagi cerita. Ujian sekaligus berkah yang sudah Tuhan titipkan pada saya. Belajar bukan berarti harus mengalami bukan? belajar juga bisa mencontoh dari apa yang dialami orang lain :)
            
            Saya akan selalu ingat hari ini. Tanggal 18 Oktober 2012, hari di mana saya sedang dalam posisi tiduran di kasur panjang berwarna putih yang tidak pernah saya suka. Sambil mengetik apalah namanya ini, mungkin cerita kehidupan. Di kolom blackberry yang tidak sebesar monitor PC.
            Sambil menonton acara Hitam Putih Trans7 *sebenarnya air mata saya juga sedang mengalir*, dan saya berusaha penuh bercerita di sini sambil menahan laju air mata yang sedikit-sedikit membasahi pipi. Saya juga berusaha agar tidak ada yang sadar saya sedang menangis. Saya khawatir orang-orang di sekeliling saya juga lelah melihat air mata saya.

            Hari ini saya cek up ke rumah sakit entah yang ke berapa kalinya. Dan Dokter bilang dengan lugasnya saya harus dirawat lagi di rumah sakit pemerintah ini untuk yang ke-2 kalinya. Kalau mendengarkan suara perasaan, saya menangis dan menjerit. Ya! Saya sedih! Karena saya manusia biasa toh? Oke, jadi dokter bilang saya harus menjalani rawat inap untuk kemoterapi. Kita semua tahu bahwa saat mendengar kata kemoterapi pikiran kita pasti mengarah ke penyakit kanker. Dan, tidak ada orang yang mau juga. Sebenarnya penyakit saya bukan itu. Tapi, saya kurang tahu istilah kedokterannya pastinya apa. Jadi kita sebut saja Mola atau hamil anguur.
            Kemoterapi yang harus saya jalani ini adalah efek dari hamil anggur yang sempat saya alami waktu usia kandungan saya memasuki minggu ke-10.  Dan dokter bilang, efek dari hamil anggur ini cenderung/potensi ganas. Untuk lebih jelasnya, silahkan googling biar Om Google yang menjawab J

            Saya sudah tidak lagi sibuk memikirkan apakah besok lusa saya akan dimarahi bos, apakah satu jam lagi saya akan nge-Mall, dan apakah nanti malam saya harus melayani suami. Yang saya pikirkan hampir setiap menit adalah, Tuhan saya mau sembuh saya mau sehat. Sebenarnya, kemoterapi yang akan saya jalani besok untuk pertama kali adalah satu-satunya jenis kemoterapi yang bisa menyembuhkan sel-sel kanker di dalam tubuh. Dan kemoterapi terringan dengan dosis yang ringan. Tapi dengan efek yang hampir sama. Saya masih bersyukur pada Tuhan bahwa penyakit saya bisa disembuhkan. However, I believe in God.
            Jujur, pada awalnya saya sulit sekali menerima keadaan ini. Saya ingin protes pada Tuhan. Dari sekian banyak wanita yang saya tahu/kenal, kenapa harus saya yang mengalami ini. Kehilangan bayi pertama saya, lalu harus menjalani sederet proses yang panjang dan sungguh melelelahkan. Tapi tadi saat saya sedang duduk di ruang tunggu pendaftaran rawat inap, saya merenung banyak hal. Berfikir lebih banyak. Saya mencoba mind-map kembali dan menata cara berfikir saya yang saat itu petanya sedang berantakan. Bahkan jika diibaratkan puzzle, potongan-potongan puzzle tersebut berlarian dan tidak menampilkan gambar secara utuh. Saat pikiran saya belum jernih, saya berfikir tentang berkah-berkah luar biasa yang Tuhan berikan. Dan saya mengumpulkan point-point tersebut.
            Yang pertama. Tuhan memberi kedua Orang Tua yang hebat yang tidak pernah lelah mendoakan saya, memberi saya semangat hidup, dan mensupport saya selama sakit. Orang Tua yang mati-matian melakukan segala hal untuk saya, anaknya. Dan mereka luar biasa sabar, walaupun saya tahu mereka juga melihat saya sakit. Atau juga sama lelahnya dengan saya. Tapi mereka tidak pernah memperlihatkan itu, mereka kuat demi saya.
            Kedua. Suami saya. Dulu, waktu saya masih jadi ABG tolol sok lugu saya selalu dipertemukan dengan cowok brengsek dan bukan cowok baik-baik. Sekalinya ada cowok baik, entah kenapa tidak ada jodohnya. Setelah menikah, saya akhirnya tahu alasan Tuhan. Itu karena saya lebih baik bertemu mereka dulu sebelum bertemu suami saya. Dan dengan baiknya Tuhan mempersatukan kami walaupun dengan jalan yang tidak mudah. Tapi kami berhasil melewati segala hal yang sulit itu. Dan Tuhan benar-benar sudah memberikan Pria yang tepat. Yang selalu saya pesan di setiap do’a saya kala shalat. Dia Pria sempurna versi saya. Dan dia mencintai Tuhan-nya lebih daripada mencintai saya.
            Di sini, saya tidak membahas tentang cinta mati atau cinta sejati. Tapi ini tentang hubungan yang bisa saling menguatkan. Buat saya, suami saya itu orang yang paling berlogika. Dia cerdas dalam menyikapi segala sesuatu. Dia juga yang menguatkan saya setiap hari saat saya harus menghadapi segala hal yang sulit. Dan dia terorisme paling berpengaruh dalam hidup saya yang sering menanamkan pikiran bahwa hidup itu sudah ada yang mengatur. Tidak ada hal sulit apapun yang harus kita takutkan selain Tuhan. Karena hanya Dia yang berkuasa penuh atas hidup kita. Suami saya juga yang mengajarkan saya untuk berfikir bahwa semua yang kita punya di dunia adalah milik Allah semata. Bahkan nyawa kita sekalipun. Jadi, materi bukan tujuan utama hidup.
            Ketiga. Adalah keluarga dan mertua saya yang tidak pernah bosan berdoa untuk kesembuhan saya. Begitu perhatianya mereka akan kesehatan saya. Begitu pedulinya mereka berdoa untuk saya. Buat saya, *orang-orang yang sudah saya sebutkan tadi* merekalah justru harta saya yang paling berharga yang dengan baiknya Tuhan titipkan pada saya. Hanya demi mereka saya bisa hidup dan bertahan. Dari segala kondisi hidup yang tidak enak.

            Dari situ, saya berfikir bahwa Tuhan justru terlalu baik pada saya. Mengirimkan Orang Tua, Suami, dan keluarga yang tidak henti-hentinya mendoakan saya dan menyayangi saya dengan tulusnya. Jadi kenapa saya harus bertanya, “ God why must me?” saat saya harus menjalani rasa sakit ini.
            Dan dengan alasan apa lagi saya harus mengeluhkan ujian-ujian dalam hidup saya. Buat saya, hidup saya malah terlalu sempurna. Tuhan sangat sayang pada saya tanpa terkecuali. Karena Dia membiarkan saya belajar banyak hal. Tidak setiap orang bisa belajar dari rasa sakit, dari keadaan atau pengalaman yang tidak mengenakkan. Tapi Tuhan memberi saya kesempatan, untuk belajar banyak hal. Untuk bisa pintar membaca hikmah yang Dia berikan dan belajar dari sana.
            Jadi, saat saya sakit dan harus menjalani banyak proses saya tetap bersyukur pada Tuhan. Berkah yang Dia berikan di hidup saya sungguh luar biasa. Sungguh tidak bisa saya sangkal. Dia terlalu sempurna untuk memberikan hidup yang begitu sempurna. Saya tahu, doa dan harapan tidak akan membuat hidup kita “selalu” baik-baik saja tapi akan SELALU membuat kita bisa menyikapinya dengan baik. Dan kadang, doa yang kita panjatkan tidak selalu berwujud apa yang kita inginkan. Tapi justru berwujud apa yang tidak pernah kita harapkan. Malahan dengan maksud mengabulkan doa kita.
            Saya bukan mau belajar jadi ustdzah seperti Mama Dedeh, saya hanya ingin setiap orang juga bisa belajar seperti saya. Belajar hidup ber-ke-Tuhan-an. Jadi, apapun yang terjadi dalam hidup kita selalu didasarkan Tuhan sehingga kita tidak takut akan apapun karena yakin Tuhan bersama kita dan mengatur semuanya dengan baik. Karena kita tidak pernah tahu skenario baik apa yang akan Tuhan tulis dibuku harian kita. Jadi, bersyukurlah! Apapun yang sudah Tuhan tentukan untuk hidup kita. Walaupun kita tahu bahwa itu tidak mudah untuk selalu diterapkan disetiap keadaan. Tapi saya selalu yakin dengan bersyukur, justru segalanya jauh lebih mudah.
            Terakhir saya sakit parah dan dibawa ke rumah sakit, dari situ saya mati-matian berdoa minta kesempatan pada Tuhan untuk tetap hidup. Untuk tetap kuat. Dan saat itu saya percaya bahwa Tuhan memang benar-benar sedang menolong saya. Dan Dia memang menyelamatkan saya. Di dalam bayangan saya, dia sedang menggenggam tangan saya dan berkata, “ I’m a proud of you cause you’re strong. And have more power.” Jadi saat itu saya bisa benar-benar kuat.
            Saya selalu ingat salah satu quote penyanyi terkenal Ahmad Dani, yang pernah bilang bahwa saat Tuhan berkata YA, semesta mendukung. Itu pula lah yang saya alami selama saya sakit. Tuhan sedang menguji hidup saya sekaligus mentransfer kekuatan sambil menggenggam tangan saya. I don’t know what to say, but … God is really GREAT. So’ I love You my Dear Allah SWT.  
             

Rabu, 03 Oktober 2012

Sudah terbiasa dengan kehilangan

Alhamdulilah, akhirnya saya ada di depan komputer kantor lagi. Duduk manis dan bisa sambil ngenet setelah kerjaan beres. Saya pengen cerita banyaaaakkk. Mudah-mudahan panjangnya gak ngalahin sinetron tersanjung. Tapi lumayan inspirasional kok (apalah arti kata-kata ini!).

Jadi ceritanya, saya inget banget. Tanggal  22 Agustus 2012. Pas setelah 8 hari saya telat menstruasi dan beli testpack. And then, jantung saya berderbarnya kenceng banget kayak baru pertama jatuh cinta in 5 years old (seriously!). Tangan saya gemeter saking senengnya liat 2 garis warna merah yang seolah melambai-lambaikan tangan ke arah saya. Suami saya cuma senyum-senyum and then he kiss my forehead. Dia bilang udah nyangka saya hamil diliat dari tanda-tanda keluhan saya sakit di sana sini. And I'am so' happy. More than just a happy. Kalau ada istilah lainnya untuk lebih bahagia daripada bahagia, mungkin maksud saya itu.
Sempet kepikir apakah saya mampu mengandung selama 9 bulan, apakah saya siap menghadapi moment-moment persalinan, dan yang terpenting apakah saya bisa jadi Ibu yang baik dan bisa mendidik anak saya jadi seseorang yang cerdas sesuai dengan yang saya mau. Tapi dengan bismillah, saya ikhlas menjalani semuanya. Walaupun menjadi seorang Ibu itu tidak mudah.

Masuk minggu ke 6 saya mulai sering mual bahkan sampai muntah. Hari-hari saya sudah berubah 360 derajat. Saya nggak suka bau parfum so' I never use it again. Sehari muntah bisa 2-3 kali. Saya gak mau dandan dan memang tidak dibolehkan memakai kosmetik sembarangan. Saya yang tadinya menomorsatukan penampilan diluar semua hal jadi seseorang yang cuek banget masalah penampilan. Jarang cuci muka sebelum tidur, keramas bahkan bisa 3 hari sekali. Teman-teman bahkan suami saya bilang kayaknya anaknya cowok saking pemalesnya. Haha. Walaupun saya pengen banget anak perempuan tapi saya syukuri saja kalau Tuhan memberi saya anak laki-laki.

Sampai suatu hari, saya udah nggak kuat banget dengan mual dan muntahnya yang kuantitasnya makin hari makin bertambah. Sampe nggak kuat pergi kerja. Tanggal 20 September malamnya saya dan suami periksa ke bidan. Maksudnya pengen liat anak kami lewat USG. Sebelum pergi, saya sempet berdo'a pada Tuhan semoga bayi saya sehat. Tapi sesampainya di sana, dan periksa USG saya dikagetkan oleh raut wajah bidan yang agak weird. Katanya saya harus periksa ke dokter kandungan. Karna bayinya nggak keliatan. Dan  prediksi bidan saya kayak hamil anggur alias hamil diluar kandungan. Saya langsung kaget, dan masih belum paham istilah hamil anggur ini. Tapi yang jelas, saat itu saya sedih banget. Bidan bilang kalau prediksinya benar, saya harus kuretase dan bayinya harus dikeluarkan. Sebisa mungkin saya tahan tangis di sana. Baru sampai di mobil, saya mulai saling melihat dengan suami saya. Dia hanya bilang saya harus banyak bersabar. Dari situ tangis saya meledak. Bahkan suami saya pun hanya bisa menggenggam tangan saya tanpa banyak bicara. " Kita lagi diuji lagi sayang ..." kalimat itu pun bahkan lebih dahsyat dari prediksi bidan tentang kehamilan saya. And I say to him that, " Aku rela mual sama muntah terus asal bayi kita sehat ..."

Besoknya saya langsung ke dokter kandungan di rumah sakit ibu dan anak, ternyata diagnosa dokter tersebut juga sama. Hamil anggur. Saya dirujuk lagi ke lab untuk tes darah hormon kehamilan atau biasa disebut HCG. Setelah hasil keluar, dokter tersebut merasa tidak sanggup untuk tindakan kuretase karena kadar hormon kehamilan saya tinggi sekali. Sampai bosan saya menangis. Kenapa saya harus kehilangan anak saya bahkan sebelum saya sempat melihatnya. But, lucky me. Tuhan mengirim seorang suami yang sangat sabar menghadapi saya. Saya tahu dia juga sama kecewanya dengan saya. Tapi dia berusaha sekali untuk terlihat lebih kuat dari saya untuk menguatkan saya.

Saya dirujuk kembali ke rumah sakit negri di Bandung karna saya harus ditangani dokter specialis onkology. Di rumah sakit swasta besar pun, specialis onkology tersebut tidak ada. Hanya ada di rumah sakit negri tersebut yang, maaf. Pelayanannya pun sungguh sangat tidak nyaman. Tapi ya terpaksa. Akhirnya dari tanggal 25 September saya dirawat di sana. Dan ternyata proses kuretasenya pun masih harus esoknya menunggu dokter yang bersangkutan. Saya masih mual, muntah, bahkan sudah tidak masuk makanan apapun. Belum lagi pihak rumah sakit yang cuek karna saya belum dapat suntikan infus. Malamnya, ternyata saya harus pasang alat yang dimasukan lewat vagina agar saya mengalami pendarahan dan agar rahimnya terbuka saat di kuret nanti. Subhanallah, sakitnya melebihi apapun. Saya sampai jerit-jerit kesakitan. Tidak bisa tidur nyenyak, dan ketegangan terus menghantui saya. Entah kejutan apa lagi yang akan saya terima.

Suami saya masih menemani bahkan memberi lebih banyak support. Walaupun saya tahu dia lelah bahkan rela meninggalkan pekerjaannya berhari-hari. Saya jadi tahu bahwa saya nggak salah pilih suami. He's the best!!! Tindakan kuretasi dimulai pada tanggal 26 September jam 10 lebih 15 menit sampai pukul 10.30.

Hikmah yang saya dapat setelah kuretase ini, saya berfikir bahwa mungkin Tuhan memang menyiapkan moment yang lebih indah untuk saya dan suami. Walaupun kami harus kehilangan anak pertama kami. Dari hari ke hari saya mulai ikhlas melepas dia pergi. Bahkan teman saya bilang, anak yang sudah meninggal di kandungan akan mendoakan orang tuanya suatu hari nanti. Amin Ya Rabal alamin saya sampai terharu mendengarnya. Mungkin memang saya juga belum sepenuhnya siap jadi Ibu. Dan saya percayakan semuanya pada Tuhan. Biar Tuhan yang menentukan segala yang terbaik untuk saya dan suami. Saya yakin, apapun yang saya lakukan dengan berdasarkan atas Tuhan, demi Dia, dan untuk Dia, segala sesuatu yang sulit akan jadi mudah. Saya tetap bersyukur, ini tanda bahwa Tuhan sayang sekali pada kami. Dan kami tetap semangat menyambut kedatangan anak kedua di saat yang tepat, di saat yang sudah Tuhan janjikan :)

Rabu, 22 Agustus 2012

It is about life, not life style!

Hoaaaaa. Akhirnya bisa juga nongkrong depan laptop walau kepala masih pusing-pusing agak kurang nice buat diajak mikir. Sebenernya saya pengen nulis blog tentang ini dari sekitar 2 hari yang lalu. Tapi berhubung kepala saya berat sama pusing ya terpaksa ditunda dulu :D (okelah ini sama sekali gak penting).

Jadi, awalnya saya berfikir pengen nulis tentang gaya hidup atau perubahan gaya hidup seseorang saat melihat gaya hidup seseorang yang memang sudah berubah jauh dari pandangan saya tentang dia. Sebut saja dia salah satu sahabat saya. Kenapa saya panggil dia sahabat? Karna buat saya, sahabat itu orang yang paling tahu saya dan pernah ngalemin masa-masa susah bareng. And she does.
Kita temenan dari SMP kelas 2, dia satu-satunya orang yang paling mengerti saya di masa-masa sulit saya dulu. Dia juga orang yang masih mau temenan sama saya walau tahu saya type orang emosian. Intinya, dia selalu ADA. Dan satu hal yang bikin kita cocok bahkan masih bersahabat sampe kita SMA dan bahkan kuliah adalah, dia cerdas. So' we have the same taste in everything. Dia juga yang banyak mengajarkan saya banyak hal, bahkan bahasa inggris (she's really good in english).

Kita satu sekolah di SMP, pisah di SMA, lalu ketemu lagi di kampus tapi beda jurusan. Saya dan dia nggak pernah putus hubungan. Dalam hal apapun kita selalu conected. Singkat cerita, saya adalah tempat dia menangis dan mengadu tentang cowoknya yang saat itu brengseknya ngalahin brengsek Zumi Zola (lah, emang Zumi brengsek?) :P 
Saya selalu siap untuk mendengarkan. Kita selalu bercerita tentang mimpi-mimpi kita berdua. Dari mulai tentang pasangan hidup sampai karir. Suatu waktu, saat saya masih berpacaran dengan pasangan hidup saya dia cerita bahwa dia baru saja menemukan the one. Menemukan pria yang selama ini ia cari. Saya senang, sangat senang. Di saat saya juga sudah menemukan orang yang tepat, and she's got it too! Tuhan memang membuat segalanya tepat di waktu yang tepat.

Tapi, satu hal yang membuat saya berubah pandangan tentang dia. Sahabat saya bertahun-tahun lalu. Cara berfikir dia. Dia pernah mengemukakan pendapatnya tentang pernikahan. Dia sedang melakukan segala cara agar fisik dia lebih baik dari hari ke hari, mulai dari luluran sampai perawatan. And all about physicall. Saya tahu itu bagus, tapi begitu mendengar alasannya. Dia bilang, dia melakukan itu agar calon suami akan selalu mencintai dia. Buatnya, dengan menjadi cantik pasangan hidup sudah dijamin tidak akan kabur ke perempuan lain. Dan banyak pemikiran-pemikiran dia yang buat saya sih melenceng. Bukan sebagaimana kehidupan itu seperti apa adanya. Saya sampai bilang sama dia, saya punya banyak perjuangan yang harus saya lakukan untuk ke jenjang pernikahan. Saya dan pasangan hidup saya banyak belajar dari rasa sakit dan perjuangan. Bagaimana Tuhan mengajarkan kami agar kami kuat menghadapi cercaan dan materi yang saat itu ala kadarnya. Demi menikah. Demi punya kehidupan yang lebih baik. Dan kenapa dia hanya sibuk memikirkan bagaimana  caranya menjadi cantik dan agar selalu DICINTAI???

Saya tahu, bahwa saat itu karir dia dan pasangannya jauh lebih baik dari saya dan pasangan saya. Bahkan dari situ saya mulai melihat bahwa gaya hidup dia sudah berubah. Saya tidak bilang materi, tapi buat dia sepertinya materi, kekayaan, kecantikan, itu adalah modal hidup dia untuk mendapatkan pasangan yang tepat, untuk mendapatkan rumah tangga yang bahagia dan hidup yang sempurna. Padahal, saya belajar lebih banyak dari itu. Buat saya kebahagiaan hidup lebih dari hanya sekedar materi berlimpah. Lebih dari sekedar apakah saya cantik atau tidak. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menghilang. Saya yang menghilang dari hidupnya. Saya yang memutuskan untuk tetap menjadi saya. Karna buat saya, gaya hidup kami sudah berbeda. Mungkin saya pun bukan sahabat yang baik, walau kadang how much I miss our moment. Tapi entah kenapa, saya yang pada akhirnya tidak bisa mengikuti gaya hidup dia. Saya yang tidak bisa mengikuti cara berfikir dia. Mungkin saya juga tidak benar-benar tahu alasan-alasan dia dan kehidupan dia yang sesungguhnya. Saya hanya menyayangkan, kenapa perempuan secerdas dia bisa melupakan bahwa kita pernah mengalami masa-masa sulit. Bagaimana kita bisa menghargai masa-masa sulit dalam hidup. Dan bagaimana kita bisa belajar menjadi seseorang yang tetap ingat saat kita di bawah saat kita sudah di atas.

Dear, 
you know that is the beauty of life more than IT!!!
I hope someday, kita sama-sama mengerti. Entah kamu yang mengerti cara aku berfikir atau aku yang mengerti cara kamu hidup. Yeah. Someday.