Selasa, 25 Desember 2012

Why you so' obsessed with me?


Judul blog saya ini ngopi dari judul lagunya Mariah Carey. Tapi ini bukan tentang obsesi pada seorang lawan jenis. Saya pengen bahas tentang obsesi pada sesuatu. Simple aja sih. Tulisan ini dibuat gegara saya sering memperhatikan gaya hidup orang-orang yang sudah atau bahkan mulai berubah setelah mencapai obsesinya. Kenapa saya bilang obsesi? Bukan tujuan atau bahkan cita-cita? Cause for me, kalau yang dikejar materi namanya bukan cita-cita men! (Damn why I used this word? 'men') :|

Begini, sederhananya. Jika ada yang bertanya apa cita-cita kita, harusnya sih berhubungan sama passion. Judulnya aja cita-cita. Tapi zaman sekarang, cita-cita atau tujuan itu ukurannya materi. Lagi-lagi materi. Dan obsesi yang saya maksud di sini pun, itu jatohnya materi. Bukan lagi passion. I means, ya gak munafik ya bok. Saya juga butuh uang, cari uang buat hidup, dan pengen hidup enak. But for me, itu bukan tujuan saya atau faktor utama kenapa saya cari duit. Hidup enak dan uang banyak itu bonus. Hidup itu kayak main game men! Saat kita melakukan sesuatu lalu menang, kita dapet hadiah. Bukan karena pengen dapet hadiah lalu baru kita melakukan sesuatu. Tapi kayaknya orang-orang zaman sekarang melakukan option ke-2. Melakukan sesuatu karena pengen hadiah.

Saya melihat dan memperhatikan gaya-gaya hidup beberapa teman. Yang saya tahu historynya kayak apa dari awal. Intinya, karena dari beberapa mereka capek diremehkan orang-orang karena keadaan ekonomi. Dan karena mereka gak mau melulu hidup susah. Lalu muncullah obsesi tersebut. Sebenernya sih gak masalah selama obsesi wajar, tapi jika sudah menyimpang itu yang salah. Bahkan bukan tidak boleh kita menjadi orang yang berada, tapi intinya manfaat dari uang/materi yang kita punya. Dan maaf kata, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka mau (even itu memang hasil usaha keras mereka) menurut saya cara berfikir dan cara hidupnya mulai menyimpang. Dimulai dari obsesi tadi.

Yang saya gak setuju, adalah gaya hidup sosialita mereka. Mulai nggak keren kalo gak nongkrong di cafe, mulai gak merasa cantik kalo gak perawatan ke salon, mulai gak PD kalo gak bawa gadget mahal, mulai ngerasa malu kalo liburan/honeymoonnya gak ke luar negeri. Semuanya harus bergengsi. Dan hal-hal sepele kayak gitu. Sepele? Iya lah. Means, emang kenapa kalo hal-hal yang saya sebutkan tadi gak dilakuin? Saya nggak tahu dan nggak ngerti juga sih ya, apa itu karena mereka nggak mau diremehkan lagi sama orang-orang. Tapi menurut saya sih, itu tetap bukan alasan. Sama sekali. Saya sih nggak menyalahkan ya. Itu hak mereka. But for me, obsesi itu bisa jadi gak bagus kalo niatnya juga nggak bagus.

Sama halnya dengan niat ingin membahagiakan orang tua. Banyak anak-anak yang ingin bahagiain orang tua dengan menjadi sukses. Itu bagus. Atau pengen beliin mereka ini itu. Itung-itung balas budi walaupun kita gak akan pernah bisa membalas budi baik mereka sebanyak yang mereka kasih. Itu juga bagus sih, tapi kita kadang lupa. Apakah bahagia itu ukurannya hanya materi? Dan apakah dengan kita ngasih ini itu sama mereka, cara kita hanya menjadi cukup? Cukup bahagia. Nggak. Karena kita nggak bisa mengukur kebahagiaan seseorang. Apalagi kalo ukurannya hanya sebatas materi. Kan katanya kan bahagia itu sederhana.

Maksud saya, saat kita sudah mendapatkan apa-apa saja yang kita inginkan termasuk limpahan materi bukan berarti segala hal yang tadinya ada di diri kita (I means yang positif) jadi nggak ada di diri kita. Bahkan jadi berubah. Jadi serasa nggak afdol gitu kalo kita nggak termasuk di salah satu kaum sosialita tersebut. Kasian sih sama orang-orang yang kayak gitu. Yang buat mereka, materi jadi satu-satunya wahana untuk jadi bahagia. Dear, saya sedang menjalani pengobatan. Butuh mental kuat dan banyak untuk menghadapi penyakitnya sendiri, pengobatannya, biayanya, and all. Tapi tanpa itu semua saya tetap merasa saya bahagia. You know what? Semenjak sakit, bahkan saya nggak bisa jalan-jalan atau liburan ke mana-mana. Saya nggak bisa creambathan lagi ke salon kayak dulu, saya nggak bisa belanja ini itu atau bahkan sekadar mempercantik diri. Tahukah kamu bahwa saya hanya mengejar SEHAT. Kehidupan di dunia ini kecil sekali. Sehat dan selalu diberkahi Tuhan. Itu tujuan saya sekarang. Dan intinya, saya tetep bahagia :)

Kamis, 20 Desember 2012

Tuhan, saya mau sukses


Wait a minute. Ini saya nggak lagi keselek pidatonya Mario Teguh kan? Muehehehe. Kenapa hari ini saya bahas tentang sukses di blog saya yang fana ini (eh, ini apa sih kenapa jadi bait lagu). Alasannya sederhana. Saya baru saja mendengar sound cloud Dedy Corbuzier di internet. And I found the inspiration to write this. Tiba-tiba saya juga ingin tahu apa itu sukses. Kalau yang saya tangkep di masyarakat, sukses itu banyak uang, bekerja di Bank, bekerja di bagian pemerintahan, menjadi direktur, menjadi boss. And all. Dari gambar yang saya dapat di atas, saya merasa bahwa sukses itu bukan tentang wujud. Tapi tentang cara berfikir dan cara hidup. Eh, ketinggian gak sih pembahasannya? Agak dikurangin ya :D

Intinya, buat saya sukses dalam hidup itu adalah tahu bagaimana caranya bahagia tanpa harus mengejar materi, kedudukan, atau pekerjaan bergengsi. Dan sukses itu berhubungan dengan passion. You know that my passion is writing. Saya akan selalu menulis. Dimana pun. Kapan pun saya mau. 

Dulu, saya berfikir bahwa saya butuh pengakuan dari dunia. Pengakuan apa? Pengakuan dari dunia bahwa saya penulis dan bisa menulis. Tapi Suami saya mengajarkan, bahwa saat saya mencintai suatu bidang pengakuan tidak lah penting. Jadi atau tidak jadinya penulis, saya harus tetap menulis. Karena saya mencintai. Bukan sekadar ingin menjadi. Pada akhirnya saya berfikir, saya akan selalu menulis. Walaupun ternyata nanti tulisan saya terkenal tapi di usia tua saya. Lho, why not?

Dengan menulis saya selalu merasa pintar. Saya merasa sedang jalan-jalan tanpa bergerak. Dan saya menulis karena saya ingin berbagi. Bukan hanya pengalaman tapi juga pelajaran. Perlu diketahui bahwa tulisan-tulisan saya yang berbentuk novel sudah ditolak berkali-kali. Saya lupa tepatnya berapa kali. Sampai saya hampir menyerah dan berfikir bahwa tulisan saya tidak akan pernah diterbitkan. Tapi setelah mendengar sound cloud tadi, saya berfikir saya hanya belum selesai mencoba. Kalau pun sampai mati tidak diterbitkan, ya TERUS KENAPA? :D

So' saya akan selalu menulis selama saya bisa dan saya mau. Kalau nggak nulis, jiwa saya kayak berkeliaran di tempat. Kayak pengen gerak tapi gak bisa kemana-mana. So' I'll write everything. Semua yang otak saya suruh. Semua yang mata saya lihat. Dan semua yang hati saya rasakan. Impian saya, saya menjadi penulis yang dikenal orang. Tapi itu bukan tujuan. Tujuan saya, ya tetap menulis dalam media apapun. So' saya nggak harus jadi pegawai Bank atau pegawai negeri dulu kan ya untuk menjadi sukses? Pekerjaan kan bukan ukuran sukses tidaknya seseorang. Karena di atas langit masih ada langit :)

I'm envy :)


Source : Google

Look at the pic. Itu gambaran seorang ibu hamil yang sangat didambakan jutaan wanita di dunia. 
Hari ini saya blog walking lagi untuk para ibu yang mengalami atau pernah mengalami hamil anggur/mola seperti saya. Khususnya yang berlanjut harus kemoterapi seperti saya. Bukannya apa-apa, saya hanya ingin kami berbagi pengalaman. Dan perbandingan dengan apa yang sedang saya alami ini. Blog yang saya temui, saya cari nama orang tersebut di beberapa situs jejaring sosial. Thanks God, for the facebook and twitter. Rata-rata saya bisa menemukan mereka di sana.

Rasanya hari ini saya ingin menulis terus :))))
Saya memang butuh teman cerita. Apalagi saya sudah tidak bekerja sekarang. So' pekerjaan saya ya menulis. But I love writing :) Dari blog walking, ternyata saya memang merasa tidak sendiri. Mereka yang pernah mengalami, juga merasakan apa yang saya rasakan. Apa yang kita rasakan sama persis.

Tapi intinya, yang ingin saya ceritakan di sini bukan melulu tentang penyakit saya. Khawatir reader bosan, ntar lama-lama saya jadi terkesan jual rasa kasihan lagi. Hehe. But now, saya ingin bercerita kalau saya cemburu melihat teman-teman saya yang kini sudah hamil. Yang baru hitungan bulan menikah (seperti saya kemarin) lalu hamil. Padahal saya juga sama seperti mereka, TADINYA. Mungkin sampai saat ini pun saya masih belum ikhlas kenapa nggak jadi hamil. Tapi jujur saya sedih. And I'm crying last nite in my hubey's arm. Saya tahu, saya hanya cemburu melihat mereka yang hamil. 

And my hubey's ask me, " Kamu merasa Tuhan gak adil?" when I hear he said that, it's hurting me. Kenapa? Karena saya tahu Tuhan itu adil. Maha adil seadil-adilnya. So' kenapa saya harus lelah melihat mereka yang hamil. Kenapa saya harus jealous? God, sorry for this think. I know it's wrong. Saya sempat menyayangkan. Waktu suami saya bilang mereka yang hamil lalu punya anak, mungkin karena mereka siap. Tapi saya menyanggah. Lalu, kalau tujuannya sama untuk kesiapan menjadi seorang ibu kenapa saya harus sakit dulu untuk menjadi siap? Tapi kenapa mereka tidak? I know this sound's whiny. Secara tidak langsung saya menyalahkan Tuhan. Padahal saya pernah bilang bahwa dalam masalah ini, jangan bawa-bawa Tuhan. And I'm sleep with bring my grief to my dreamland. Saya mencoba untuk tidak memikirkan hal itu lagi.

Suami saya pernah bertanya juga. " Kamu ingin hamil karena teman-teman kamu hamil. Atau kamu ingin hamil karena sudah merasa siap dengan titipan dari Tuhan?" Saya rasa, option pertama jawabannya. Saya sempat ingin berhenti karena saya lelah berjuang. APA? Tidak ada yang namanya berhenti dalam hidup. Jika ingin berhenti, jawaban pastinya adalah mati. Siap tidak siap kita harus terus berjalan. Karena untuk kembali ke belakang saja jelas tidak mungkin. Kalau saya sedih karena saya ingin berhenti dan karena saya lelah, saya rasa Tuhan lebih sedih lagi jika saya menyerah. Jadi saya tidak mau mengecewakan Tuhan. Saya mau Dia bangga karena saya kuat. Karena kekuatan yang Dia selipkan di tangan saya tidak saya sia-siakan.

So', if I recover from this sick. I'm ready to be prod Mom \^^/


Selasa, 04 Desember 2012

Kuat karena kamu lebih kuat


Hey Reader ... I'm back!
Front on my laptop, to write this to you :)

Rasanya kayak lagi ada di ujung jurang. Sambil melihat-lihat ke bawah betapa jauhnya daratan. Betapa ingin melompat ke sana. Betapa ingin berteriak dan protes pada Tuhan. Pada siapa? YA! Pada Tuhan. Dasar manusia. Tuhan selalu disalahkan setiap kita sedang bermasalah. Tapi tak pernah saya lakukan itu semua. Gak ada guna. Karena dengan marah, Tuhan tidak akan menjadi kasihan lalu memberi apa yang kita mau, bukan apa yang kita butuhkan.

Seminggu kemarin terasa jadi minggu yang sangat BERAT buat saya. Sehabis kemoterapi ke-2, saat tes HCG ternyata HCG saya naik. Dari 700 sekian jadi 1000 sekian. Saya SEDIH! Dan saat itu saya ingin MARAH! Saya menangis lagi untuk yang kesekian ratus kalinya. Saya pikir dari 700 bisa turun banyak lagi hingga saya gak perlu banyak-banyak tambahan kemoterapi. Tapi ternyata tidak. Saat itu pikiran saya kalut sekali. However, bolak balik rumah sakit itu butuh biaya banyak. Dan keuangan keluarga saya sudah mulai menipis. Saat pergi ke rumah sakit, saya nggak semangat. SAMA SEKALI tidak ada semangat. Semalaman saya sharing dengan suami. Cuma dia satu-satunya orang berfikiran logic yang bisa saya ajak bicara.

Sampai di rumah sakit, ternyata karena naik HCG kemoterapi saya harus naik dosis. Dari MTX ke EMACO. Yang bisa dibilang jauh lebih berat. Yang ternyata jauh lebih mahal juga harganya. Bukan apa-apa. Tapi yang saya pikirkan adalah efek kemoterapinya. Kalau dosisnya ringan, badan saya masih bisa terima. Kalau naik dosis, I don't even know. Shock waktu liat obatnya banyak dan saya harus diinfus. Setelah kemarin saat MTX hanya suntik saja. Malamnya saya baru diinfus, dan dimasukan lah obat-obatan yang banyak itu ke dalam infusan. Dan bagaimana hasilnya? Semalaman saya muntah sebanyak 9x :D
Tapi Tuhan masih bersama saya. Saya cek USG dan test rontgen paru-paru. Hasilnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. All be oke. Hanya mungkin sel trofoblas ini yang bandel di tubuh saya.

Baru menjelang subuh suster kasih saya obat yang dimasukan ke dalam infusan. Barulah muntahnya berhenti dan saya bisa tidur. Yang lebih kasihan suami saya. Saya muntah sekian menit sekali, otomatis dia tidak bisa tidur nyenyak. Sedangkan paginya dia masih harus pergi kerja. Maaf ya sayang :((((

Ada yang berbeda dari MTX. Kemoterapi ini rawat inapnya hanya 2 hari. Di hari ke-8 rawat inap lagi hanya sehari. Mungkin karena obatnya keras, jadi dikasih jangka waktu seminggu untuk obat berikutnya. Memang terlihat ringan, tapi Ya Allah efeknya itu loh. Malam pertama dan kedua absolutely saya nggak bisa tidur. Tapi di hari ke-2 muntahnya hanya sekali. Pulang ke rumah saya nggak bisa makan sama sekali. Selera makan hilang, maunya muntah saja. Tapi untungnya dikasih resep oleh dokter. Dan lumayan walaupun makannya cuma bubur beberapa suap dan jus yang bisa masuk. Tapi sehari setelah pulang, I'm fine :) dan mulai lagi masuk makanan sedikit-sedikit. Alhamdulilah. Dari situ, nafsu makan kembali meningkat seperti biasanya.

Di hari ke-8. Segalanya lancar. Dari mulai booking ruangan yang biasanya susah karena penuh, dilancarkan karena ruangan banyak yang kosong. Dan, saya nggak muntah =)))) . Karena obat yang dimasukan ke infusnya juga cuma sedikit. Tapi pas pulang ke rumah, mendadak saya mual lagi dan muntah sampai 4 kali di malam hari. Untung ada stock obat mual di rumah. Jadi besoknya sedikit demi sedikit saya bisa makan. Ironis sekali. Saya nggak punya keluhan sakit apapun karena penyakit ini. Tapi efek kemoterapinya yang bikin gak kuat. Setiap mual lalu muntah saya harus tahan-tahan agar gak muntah. Sampe muncul keringet dingin. Tapi mudah-mudahan, efeknya hanya ini. Please, jangan ditambah apa-apa lagi :'((((

Malam itu, suami saya sampai memeluk saya erat. And I know, he's praying on silent. Dia bilang gak tega liat saya muntah-muntah sebegitu parahnya. Saya tahu dia sedih, kalau posisinya dibalik mungkin saya yang nggak kuat kalau liat dia sakit. Suami saya orang paling tenang dan sabar dalam menghadapai apapun. Tapi kemarin dia terlihat rapuh. For a God sake, saya sedih liat dia sebegitu sedihnya liat saya drop. Bahkan dia sampai mati-matian cari biaya pengobatan saya. DEMI SAYA :')

Makanya setiap sebelum pergi tidur, saya selalu elus rambut suami saya sambil berdoa untuk dia. Berdoa agar Tuhan selalu beri dia kesehatan, selalu dilindungi, dan dimudahkan segala usaha & urusannya. Sekarang saya mengerti, apa perbedaan menikah dan pacaran. Setelah menikah, ada tanggung jawab yang didasarkan perasaan cinta. Saya bukannya melebih-lebihkan. Tapi memang apa yang kami berdua hadapi sekarang sangat tidak mudah. Tapi suami saya berusaha untuk selalu mendampingi saya dalam keadaan saya serapuh apapun. Dia selalu bilang, dia harus kuat untuk menguatkan saya. Kita sedang sama-sama belajar. Belajar menerima keadaan masing-masing. He did perfectly. That's why I choose him to be mine :) And I pray to God it'll be forever :')

Saya sebagai seorang istri yang juga sedang menjalani pengobatan, Hanya bisa berdoa untuk saya, untuk dia, untuk kami. Saya gak pernah bosan untuk minta kesembuhan sama Yang Berhak. Tuhan Maha Segalanya. Walaupun kemarin saya sempat kehilangan harapan, tapi saya mencoba untuk tidak lelah meminta kesembuhan. Dear reader, jika kamu, temanmu, istrimu, sahabatmu, atau saudaramu yang mengalami penyakit yang saya alami. Jangan takut. Bersyukurlah karena penyakit ini masih bisa disembuhkan oleh kemoterapi. Saya nggak bilang bahwa kanker-kanker yang lain tidak bisa disembuhkan oleh kemoterapi. Tapi penyakit trofoblas ini punya kemungkinan besar sembuh. Dan, saya HARUS SEMBUH. No matter what.

Tuhan, bantu saya untuk percaya dan yakin bahwa Kehendak-MU memang selalu benar :)

Senin, 19 November 2012

If my Alena still alive :)

Entah karena saya selalu mengharapkan anak perempuan, atau berharap bahwa saat hamil pertama itu anak saya adalah anak perempuan maka selama mengandung saya selalu merasa bahwa saat Tuhan memberikan jenis kelamin padanya ia benar-benar perempuan. Sorry for this God, bukan berarti saya nggak mau anak laki-laki. But, apapun jenis kelaminnya saya akan sangat bahagia. Tapi naluri saya bilang bahwa saya ingin anak perempuan (tak ada yang salah kan dengan berandai-andai) ;)

Sampai sekarang saya masih selalu merasa bahwa anak pertama saya kemarin itu perempuan. Dan jika Tuhan mengizinkan, saya menamainya Alena. Kenapa harus Alena? Karena dulu, waktu saya sedang akan menulis novel saya tanya pada suami saya karakter nama apa yang bagus untuk tokoh utama di novel saya. And then he say, Alena :) and I think it's a good name. Yang sampai sekarang sudah menjadi sebuah novel berjudul 1 Perasaan 3 Logika (excuse me! Promote) ;)
Suami saya sampai menggambar lagi tangannya dengan gambar seorang bayi dengan sayap malaikat yang sedang tidur nyenyak. Kalau saya lagi kangen, saya suka liatin gambar Alena yang lagi bobo nyenyak. This one! You can seeing my alena's sleep well :)


Lagi-lagi saya berandai-andai. If my Alena's still alive, saya akan ajak dia mengenal dunianya dari sebelum dia lahir ke dunia. Saya akan membacakan banyak cerita inspiratif padanya agar jika besar nanti dia suka membaca, bahkan bisa belajar baca sejak umur 4 tahun kayak Mommynya. Saya akan perdengarkan lagu-lagu kesukaan saya. Dari yang galau sampai yang jatuh cinta. Agar dia bisa menikmati musik dalam hidupnya. Saya akan mengajarkan dia untuk menjadi cerdas. Dalam berfikir, dalam bertindak, dalam menghadapi orang, dan dalam cara dia mencintai Tuhannya, orang tuanya, dan sesama. Agar dia bisa jadi orang yang menghargai perasaan cinta. Saya juga akan memberi tahu dia hal-hal apa saja yang orang-orang di dunia bilang itu buruk. Agar dia tahu, bahwa dunia tempat dia hidup itu bukan negri dongeng. Saya akan ajari dia bagaimana seharusnya dia memilih orang yang tepat. Bukan pria yang sesuai bibit bebet bobotnya, tapi pria yang bisa menghargai dia. Seperti Papanya menghargai Mommynya as good as well.

Alena, I miss you so' badly. Orang bilang, katanya kamu akan mendoakan dan menolong Papa and Mommy di akhirat nanti. I don't know it's rite or wrong. I DON'T care at all. Cause I beleive that you always praying for your parents, there :)

Satu hal lagi. Saya juga akan mengajarkan Alena bagaimana caranya bertahan hidup. Karena orang-orang yang akan ia temui nanti tidak selalu orang yang baik. Dan hidup yang akan ia lewati, tidak akan mulus selamanya. Tapi selama ia selalu bertahan dengan kekuatannya sendiri, dengan tangan-tangan tersembunyi dari Tuhan, saya yakin dia akan selalu baik-baik saja. Alena harus kuat seperti Papa :)

But, in fact. Alena still fall asleep now. Tapi kami, orang tuanya selalu mendoakan dia akan selalu tidur nyenyak dan mimpi indah. If you still alive, Mommy would ask you to go shopping dear Alena :))


Source : google
This Alena Nikiforova

I don't even know her, I found her pic on google. And I hope my Alena will beautyfull like this Alena :))

Sabtu, 17 November 2012

Seandainya ...


Tiba-tiba, malam ini pengen bicara. Entah sama siapa. Tiba-tiba terlintas gitu aja pikiran ini. Ya udah sih mending nulis aja. Bukankah menulis juga bicara? Tapi lewat tulisan. Dan berharap masih ada yang mau membaca untuk mendengar. Tapi nggak juga gak apa-apa (nah, kan sensitiv amat kayak handphone touchscreen) :D

Saya berfikir, seandainya saya jadi hamil. Dan gak terkena hamil anggur, lalu nggak harus menjalani kemoterapi. Mungkin sekarang perut saya sudah mulai membesar. Ada bayi yang mulai gerak di perut saya. Dan mungkin sekarang saya lagi syukuran 4 bulanan. OMG writing this, make me wanna cry for a while. 
Waktu saya hamil, teman-teman sebaya saya juga sedang hamil. Hanya beda beberapa bulan. Waktu itu saya senang karena kita sedang sama-sama hamil. Membayangkan betapa bahagianya kami akan menimang seorang bayi. Apalagi rata-rata sama kayak saya. Anak pertama. Tapi sekarang setelah saya gak jadi hamil, saya malah sedih. Rasanya gak sanggup liat mereka saling memperlihatkan foto anak-anak mereka di BB atau di facebook. Sorry to say but, I'm not jealouse. But, saya merasa. Di saat mereka sedang bahagia punya anak, saya malah harus menjalani proses kemoterapi yang panjang ini. 

God, sorry for this thing! Saya gak salahin siapa-siapa. Karena saya juga yang bilang kalo ini kehendak Tuhan. Itu alasan yang paling masuk akal buat saya. Dan yang paling bikin saya merasa nyaman mendengar alasan itu. Gak tahu gimana harus jelasinnya. Saya nggak sanggup bayanginnya kalo suatu hari nanti saya melihat kebahagiaan teman-teman saya. Saya cuma merasa, saya sedang tidak seberuntung mereka.

Bukannya saya juga menyesali kejadian ini. Nope! Sama sekali nggak. Saya cuma berandai-andai sebentar. Seandainya saya gak harus sakit. Seandainya saat itu saya beneran akan punya baby. Tapi ya gimana lagi, saya yang harus berdamai dengan kenyataan. Bukan malah mengutuk keadaan. Jatohnya malah dosa kalo saya seolah naif. Malam ini saya cuma sedih. Bukan sedih karena moment-punya-anak saya harus ditunda, tapi mungkin karena saya belum ikhlas harus sakit. Harus kemoterapi, harus menjalani proses yang panjang. OMG! Damn I wanna crying here. But, NO! My tears don't fall here.

Dear God, sorry for everything I say tonite. Sorry for this sad moment. I don't mean, seriously. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya sudah kuat. Menghadapi kenyataan kehilangan anak pertama saya, dan harus sabar menjalani segenap perawatan kemoterapi ini. Saya mau sembuh secepatnya, Tuhan ...
Saya mau ada bayi yang hidup sehat di rahim saya. Ada bayi yang akhirnya bisa lahir dengan sempurna dan sehat dari rahim saya. Mudah-mudahan ya ...

Jumat, 16 November 2012

My passion on writing


Source : Google.com

Dulu, saya masih inget banget waktu saya masih beraktifitas bekerja di kantor, keinginan terpendam saya yang saat itu belum berani saya lakukan adalah diam di rumah. Bangun tidur setelah menyiapkan tetek bengek kebutuhan suami sebelum ia pergi kerja saya akan menulis. Menulis apapun. Dan akan saya jadikan hal itu profesi. Pekerjaan saya sehari-hari setelah mengurus rumah tangga. Saya tidak berfikir bahwa apa yang saya kerjakan itu apakah menghasilkan uang atau tidak. Apakah saya mengeruk keuntungan dengan menulis untuk media cetak or something like that. Nope!

Yang saya bayangkan saat itu hanyalah feel dari menulis itu. Duduk di depan laptop dan jalan-jalan di internet. I'll do everything I want. Dan akan ada secangkir kopi panas yang menemani saya (walaupun saya gak gitu suka ngopi, tapi bok biar gaya aja kayak penulis-penulis yang suka nulis sambil ngopi). Muahahahahaha *laugh for me please*.

Atau ditambah rokok yang menghasilkan asap yang mengepul manja dari mulut saya. Tapi bagian yang itu gak saya pilih. Bok, gue udah jadi calon emak-emak. Laki gue bisa marah-manja-grop kalo liat saya merokok. Ya udah sih gak harus gaya juga kalau mau nulis ya :D

Tanpa saya sadari, ternyata apa yang saya inginkan saat itu tercapai juga sekarang. Sebenarnya ini tidak terencana sama sekali. Berhubung saya sakit, harus bedrest dan harus menjalani berbagai perawatan dan pengobatan mengharuskan saya ada di rumah. Melupakan sejenak rutinitas bekerja. Dan untuk menghilangkan bosan, saya pun menulis. Hampir setiap hari saya menulis atau nongkrong di depan laptop. Menulis apapun. Minimal ada yang saya tulis. Dan ternyatahhhh, mendisiplinkan menulis di depan laptop lalu mencari berbagai sumber dari buku, internet, atau bahkan kehidupan sehari-hari itu pekerjaan yang tidak mudah. Sangat gak gampang. Keliatannya aja enak ya bok, liat penulis-penulis terkenal yang menulis di rumah dengan masih bisa mengurus anak. Padahal, nggak semudah itu. Saya yakin, mereka juga melewati proses yang panjang untuk bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Yang enak dibaca. Yang bukunya bisa dicari oleh ribuan penggemar. Yang belum launching aja pre-ordernya udah gak ketampung.

Pada awalnya, saya juga menginginkan yang seperti itu. Wajar donk ya. Tapi lama-lama saya pikir bahwa saya akan menulis sampai mati (maaf jika terdengar lebay abaikan saja) :D
Saya akan menulis selama jiwa saya tidak mati. Dan saya menulis buat saya, selain buat dibaca orang lain. Tapi buat memberi makan jiwa saya. Ingat yang suami saya bilang, bahwa menulislah untuk diri kamu sendiri bukan untuk pengakuan atau sebatas pencitraan.

So' mudah-mudahan dengan banyaknya waktu yang saya punya sekarang, bisa melatih otak saya untuk disiplin dengan menulis ya. Hopefully. Dan bisa menambah otak saya asupan wawasan yang masih banyak tidak saya tahu. for it, thanksfull to internet ;)